Fish

Kamis, 19 Agustus 2010

Coelenterata

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu kebutuhan yang sangat pokok bagi manusia, khususnya di era globalisasi seperti sekarang ini yang sudah sangat maju, terutama di bidang sains. Salah satu ilmu yang sangat menarik untuk dikaji adalah Zoologi, yaitu ilmu yang mempelajari tentang hewan. Zoologi (Yunani, Zoon = hewan + logos = ilmu) merupakan bagian dari Biologi.
Keberadaan hewan-hewan di muka bumi sangat beragam. Keberagaman inilah yang hendaknya dipelajari sebagai objek yang diharapkan dapat diambil fungsi dan manfaatnya bagi kelangsungan hidup manusia, salah satunya adalah Coelenterata. Filum Colenterata ada beberapa ahli yang menyebutkan dengan istilah Filum Cnidria. Hewan-hewan yang termasuk dalam filum ini meliputi golongan Hydra, ubur-ubur, anemone laut, dan koral atau hewan karang. Hewan-hewan ini biasanya memiliki simetri tubuh yang bersifat radial, termasuk juga kelompok Ctenophora, sehingga disebut Radiata.
Dibandingkan dengan Filum Porifera, Filum Coelenterata lebih maju tingkatan filogeninya. Kalau Porifera disebut sebagai parazoa maka Coelenterata sudah disebut sebagai metazoa, walaupun masih primitive. Hal ini didasarkan atas kekompleksesan struktur tubuhnya. Porifera tubuhnya tersusun atas banyak sel/ multi sel, yang berarti lebih tinggi tingkatannya dibandingka Protozoa yang tubuhnya hanya terdiri dari satu sel saja, tetapi sel-sel tersebut belum membentuk suatu susunan yang disebut sebagai jaringan dan organ yang sesungguhnya. Hal ini karena sel-sel tubuhnya masih cenderung bekerja secara individual. Sementara itu Coelenterata tubuhnya juga tersusun oleh banyak sel dan sudah membentuk jaringan, dan perkembangan organ tubuhnya masih terbatas. Dalam makalah ini, penulis akan menguraikan hewan yang tubuhnya berongga (Coelenterata) lebih jelas dan terperinci.





1.2 Rumusan Masalah
1. Apa ciri-ciri umum Coelenterata ?
2. Bagaimana klasifikasi Coelenterata?
3. Apa saja peranan Coelenterata bagi makhluk hidup, terutama bagi manusia?

1.3 Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui ciri-ciri umum Coelenterata.
2. Mahasiswa dapat mengetahui klasifikasi Coelenterata.
3. Mahasiswa dapat mengetahui peranan Coelenterata bagi makhluk hidup, terutama bagi manusia.

1.4 Manfaat
1. Menambah wawasan tentang ciri-ciri umum, struktur tubuh, fisiologi, habitat, ekologi dan klasifikasi Coelenterata.
2. Memberi pengetahuan tentang peranan Coelenterata bagi makhluk hidup, terutama bagi manusia.


1.5 Batasan Masalah
Agar pembahasan lebih terfokus pada masalah, maka akan dibatasi ruang lingkup masalahnya, yaitu makalah ini hanya membahas hewan yang tubuhnya berongga.











BAB II
PEMBAHASAN

Istilah Coelenterata diambil dari bahasa Yunani (Greek); coilos = rongga, enteron = usus. Gabungan istilah tersebut tidak diartikan sebagai hewan yang ususnya berongga, tetapi cukup disebut hewan berongga. Istilah tersebut juga mengindikasikan bahwa hewan Coelenterata tidak memiliki rongga tubuh sebenarnya, melainkan hanya berupa rongga sentral yang disebut coelenterons. Rongga tersebut berfungsi sebagai rongga pencernaan dan sekaligus berfungsi sebagai pengedar sari makanan. Oleh karena itu rongga tersebut disebut juga sebagai rongga gastrovaskular (Kastawi, 2005).

Gambar 2.1 Coelenterata

2.1 CIRI-CIRI UMUM COELENTERATA
Tubuh hewan-hewan Coelenterata tersusun oleh dua lapis jaringan dan satu lapisan non selular bagian luar berupa lapisan jaringan epidermis dan bagian dalam endodermis atau gastrodermis, sedangkan diantara kedua lapisan tersebut ada lapisan non selular yang disebut mesoglea. Jaringan gastrodermis melapisi rongga gastrovaskular, sementara mesoglea merupakan masa pasta / gudir yang disekresikan oleh sel-sel epidermis dan gastrodermis. Zat-zat tersebut mengisi ruangan antara lapisan epidermis dan gastrodermis. Kadang-kadang di dalam lapis mesoglea ini terdapat sel-sel amoboid. Jadi sebenarnya tubuh Coelenterata terbangun oleh dua lapis germinal, yakni ectoderm dan endoderm ( Go, 2009 ).
Bentuk tubuh Coelenterata memiliki dua tipe dasar, yakni sebagai polip yang sesil atau menempel dan sebagai medusa yang dapat berenang bebas. Tiap polip memiliki bentuk tabung atau silinder, pada ujung oral terdapat mulut yang dikelilingi oleh tentakel-tentakel, dan dapat bergerak memanjang atau mengkerut. Tubuh tipe medusa berbentuk seperti sebuah bel/ lonceng atau seperti payung. Bagian tubuh yang cembung berada di atas dan yang cekung di bawah. Pada bagian tengah dan cekungan tersebut terdapat mulut.

Gambar 2.2 Pola Dasar Bentuk dan Struktur Tubuh Coelenterata
http://gurungeblog.files.wordpress.com/2008/11/coelenterata.jpg

Secara umum ciri-ciri hewan Coelenterata yaitu :
1) Tubuh radial simetris (silindris, globular atau spiherikal),
2) Dinding tubuh diplobastik (dua lapisan jaringan; ectoderm/ epidermis dan endoderm/gastrodermis) yang memiliki sel jelatang atau penyengat,
3) Tubuh tidak beranus, tetapi hanya bermulut yang dilengkapi dengan tentakel-tentakel di sekelilingnya,
4) Sistem pencernaan makanan tidak komplit, hanya berupa rongga gastrovaskular,
5) Belum memiliki alat penafasan, sirkulasi maupun ekskresi yang khusus.

2.2 KLASIFIKASI COELENTERATA
Ada banyak jenis yang termasuk dalam golongan Coelenterata. Secara garis besar dikelompokkan dalam tiga kelas, walaupun ada yang membaginya dalam empat kelas. Hydropoda diwakili contohnya oleh hydra (hidup di air tawar) dan Obelia (hidup di laut), kelas Scypozoa yang diwakilkan oleh golongan anemone laut dan hewan karang. Dalam bahasan berikut akan diuraikan tentang cirri-ciri, struktur tubuh, dan proses fisiologi untuk masing-masing kelas (Kastawi, 2005).
2.2.1 Kelas Hydrozoa
Secara umum hewan-hewan anggota dari kelas Hydozoa dapat dideskripsikan sebagai berikut; 1) ada yang hidup soliter dan ada yang hidup koloni, 2) siklus hidupnya terdiri dari fase polip dan fase medusa, 3) rongga gastrovaskula tidak dilengkapi stomodeum dan mesentrium, Maupun sel-sel jelatang, 4) lapisan mesoglea merupakan lapisan yang non selular yang berbentuk bubur atau lendir atau ,”pasta”, 5) gonadnya ditemukan dalam lapisan epidermis. Contoh yang paling populer adalah Hydra yang hidup di perairan air tawar dan Obelia yang hidup di air laut. Pada uraian berikut akan dijelaskan biologi dari Hydra dan Obelia.

2.2.1.1 Hydra (Hydrozoa air tawar)

A. Habitat dan Habitus Hydra
Hydra adalah Metazoa atau hewan bersel banyak yang hidup di kolam atau di sungai/empang yang airnya mengalir. Tubuh Hydra berbentuk polip yang soliter dalam arti tidak berkoloni, dapat berpindah tempat tetapi biasanya melekat pada objek, misalnya bebatuan, batang kayu, tanaman, tanaman air, dal lain-lain. Tubuhnya berbentuk silindris yang dapat dijulurkan serta dipendekkan. Kemampuan untuk dapat menjulurkan dan yang sedang memendek ini karena memang tubuh Hydra memiliki fibril-fibril khusu pada beberapa sel. Panjang tubuh Hydra mulai dari 2 sampai 20 mm, dengan diameter tubuhnya tidak lebih dari 1 mm. Ada jenis Hydra yang berwarna hijau misalnya Hydra virirndis, dan ada jenis yang berwarna kelabu Hydra Americana.

B. Ciri-ciri Luar dan Bagian-bagian Tubuhnya
Tubuh Hydra berbentuk tabung elastik yang bervariasi ukuran panjang dan ketebalannya. Ujung bawah (proksimal) dari tubuhnya merupakan bagian yang tetutup dan disebut cakram basal (basic disc) yang berfungsi sebagai alat gerak dan alat pelekat. Ujung atas (distal) tubuhnya merupakan bagian yang membentuk konus atau sirkel yang disebut hypostome, dan bagian ujungnya terbuka disebut mulut. Di sekitar mulut dikelilingi oleh 4 sampai 12 tentakel yang ramping. Bagian tubuh yang terletak di antara mulut cakram basal disebut tangkai tubuh. Mulutnya bermuara ke dalam suatu rongga yang disebut rongg gastrovaskular atau enteron yang berfungsi untuk mencernakan makanan dan sekaligus megedarkan sari makan keseluruh penjuru tubuh. Rongga gastrovaskular ini juga berhubungan dengan rongga yang terdapat dalam tentakelnya.
Tentakel pada Hydra dapat dijulurkan memanjang secara ekstrim, bias mencapai 7 cm atau lebih. Dalam kondisi ini tentkel tampak sangat tipis sehingga susah dilihat dengan lensa. Tentakel dapat bergerak bebas untuk menangkap mangsa dan memasukkannya ke dalam mulut.
Organ reproduksi ovarium dan testes, sering ditemukan atau mudah diamati pada musim gugur dan musim dingin (untuk daerah 4 musim). Kedua organ reproduksi tersebut dapat ditemukan dalam satu individu. Ovarium dapat ditemukan pada posisi sepertiga dari bagian basal, atau dekat hypostome.
Pada sisi samping tubuh Hydra biasanya ditemukan kuncup yang nantinya akan tumbuh membesar menjadi individu baru. Pembentukan individu baru cara demikian disebut perkembangbangbiakan secara aseksual.

Gambar 2.3 Hydra
http://images.google.co.id/imglanding

C. Struktur Anatomi Dinding Tubuh Hydra
Hydra merupakan hewan yang bersifat diplobastik, karena jaringan dinding tubuhnya terdiri dari dua lapisan, yakni lapisan epidermis di bagian luar dan gastrodermis di bagian dalam. Kedua lapisan tersebut terusun dari jaringan epitel, yang diantara kedua lapisan tersebut terdapat suatu lapisan non selular yang disebut mesoglea.
Lapisan epidermis merupakan lapisan tipis yang sel-selnya berbentuk kubus. Lapisan ini utamanya berfungsi sebagai pelindung tubuh dan juga sebagai alat penerima rangsang dari luar. Lapisan gastrodermis merupakan lapisan yang membatasi rongga gastrovaskular. Bila dibandingkan dengan lapisan epidermis maka lapisan gastrodermis nampak lebih tebal dan tersusun atas sel-sel yang berbentuk balok panjang-panjang. Lapisan ini, khususnya sel-sel berflagel, berfungsi sebagai alat pencerna makanan, penyerap sari-sari makanan, dan sebagai pengedar sari-sari makanan tersebut keseluruh penjuru tubuhnya. Lapisan mesoglena merupakan lapisan nonseluler yang bentuknya seperti gudir atau bubur. Lapisan ini bersifat elastik dan berfungsi sebagai alat penunjang tubuh. Berhubung mesoglea ini merupakan lapisan yang terletak di tengah-tengah antara lapisan epidermis dengan lapisan gastrodermis maka sering dinamakan juga sebagai lapisan mesolamella.



Gambar 2.4 Anatomi Hydra
http://images.google.co.id/hydra-anatomy

1) Lapisan Epidermis
Sepertiga dari tebal dinding tubuh Hydra merupakan lapisan epidermis ini, dan di bagian luarnya dilapisi oleh lapisan kutikula yang tipis serta transparan kecuali epidermis di bagian diskus (cakram) basal. Lapisan ini tersusun atas 6 atau 7 tipe sel.

a. Sel Epitelimuskular
Sel-sel epitelimoskular bentuknya seperti huruf T atau kerucut, di bagian dasarnya ditemukan serabut-serabut pengerut (contractile fibrile). Fibril-fibril tersebutberkelakuan sebagi otot longitudinal, artinya bila mereka berkerut menyebabkan tubuh Hydra maupun tentakelnya memendek. Pada lapisan epidermis, sel-sel epitelimuskuler ini bergandengan satu sam lain sehingga membentuk permukaan luar tubuh epitelimuskuler yang melebar, sedangkan permukaan yang sempit melekat pada lapisan mesoglea. Gendengan sel-sel epitelimuskular tersebut sangat kompak dan di sana-sini disisipi oleh munculnya sel-sel jelatang dan sel-selnya sensoris kepermukaan.



Gambar 2.5 Irisan Memanjang dan Membujur Tubuh Hydra
http:// http://edu2000.org/portal/images/stories/hydra.jpg
Dengan adanya sel epistemukular yang ditemukan pada tubuh Hydra dapat dipakai sebagai petunjuk bahwa Hydra merupakan Metazoa yang rendah tingkatannya (primitive). Dengan kata lain pada tubuh Hydra tampak belum adanya deferensiasi serta spesialisasi pada sel-sel pembentuk tubuhnya. Artinya antara sel epithelium dengan sel muskulus (sel otot) belum tejadi proses diferensiasi maupun spesialisasi sehingga masih bergabung menjadi satu. Dalam kenyataan di dalam sel epiteliomuskular telah ditemukan unsur-unsur dasar perkembangan lebih lanjut menuju tingkat evolusi yang lebih tinggi, misalnya adanya ”contractile fibrile” juga disebut dengan istilah “myonema” . komponen ini merupakan unsur dasar bagi perkembangan selanjutnya menuju tingkat penyempurnaan menjadi mtrofibril pada sel-sel mutikulus (sel-sel otot), masih banyak bukti lainnya yang menguatkan bahwa Hydra pada khususnya Coelenterata merupakan metazoa yang primitif.
b. Sel Iterstisial
Sel-sel interstial berbentuk bulat dan berdiameter sel-sel aktif intersial berisikan sitoplasma yang jernih, dan sebuah inti yang relatif dengan satu atau dua anak inti. Sel-sel intersial ini terletak dibagian basal dari sel-sel epitheliomuskular. Karena itu maka dinamakan sel-sel intersial atau sel-sel antara, atau juga disebut sel-sel penyisip. Sel-sel ini berfungsi sebagai cadangan, artinya bila dikehendaki atau deperlukan mereka sanggup mengubah diri menjadi sel-sel lain, misalnya menjadi sel perkembangbiakan, sel kelenjar, atau sel jelatang atau jenis sel yang lain. Menurut Brien dalam Paranto (1982) sel-sel intersial ini berfungsi sebagai sel-sel pembaharuan (“renewal”) bagi semua jenis sel pada hewan yang bersangkutan. Dalam hal ini dapat dikatakan sel-sel ini memegang peranan yang penting bagi proses regenerasi, pertumbuhan, dan pembentukan kuncup.
c. Sel Sensori
Sel-sel sensori tersebar dibagian epidermis dan endodermis, yaitu terletak dibagian dasar dari sel-sel epithelimuskular. Dari bagian tubuh Hydra yang banyak ditemukan sel-sel sensori ini antara lain di bagian tentakel, hipostom (mulut), dan cakram basal. Sel-sel ini bentuknya memanjang, yang dibagian ujung luarnya dilengkapi dengan tonjolan atau prosesus yang bentuknya seperti sikat-sikat sensori. Di ujung dalam dilengkapi dengan tonjolan-tojolan bernodula dan tojolan ini berhubungn dengan prosesus-prosesus sel saraf. Sel-sel sensoris ini mengalami spesialisasi dalam hal tugas, artinya ada yang khusus menerima rangsang berupa ; sinar, temperature, zat kimia, atau sebagai alat peraba
d. Sel Saraf
Sel-sel syaraf terletak dibagian bawah dari jajaran sel-sel epitheliomuskular, dan sejajar dengan lapisan mesogla. Sel saraf ini merupakan derivate dari epidermis dan diduga perkembangan dari sel interstial yang kemudian masuk kedalam lapisan mesoglea. setiap sel syaraf terdiri dari bagian badan sel yang bercabang-cabang yang merupakan prosesus (tonjolan) yang disebut neurit. Keistimewaan dari sel-sel syaraf Hydra atau Coelenterata pada umumnya adalah masih tetap tersebar sehingga membentuk suatu sistim difus dalam arti tidak ada adanya susunan atau system sentral.
e. Sel Kelenjar
Sel kelenjar teletak dibagian lapisan endodermis/gastrodermis, terutama dibagian cakram basal maupun disekitar hipostom (mulut). Sel-selnya berbentuk panjang dan berfungsi khusus menghasilkan sekreta atau getah. Sel kelenjar yang terdapat di bagian cakram basal menghasilkan suatu objek. Di samping itu sel kelenjar tersebut juga menghasilkan gelembung-gelembung gas. Gelembung-gelembung gas tersebut dapat digunakan untuk mengapung diri di air. Sel-sel kelenjar yang terletak disekitar hipostom (mulut) menghasilkan skreta yang berfungsi sebagai zat pelicin, yang membantu memperlancar proses penelanan partikel makanan yang berukuran besar.
f. Sel - Sel Germ
Akhir dari musim perkembangbiakan biasanya jatuh pada musim panas (pada daerah yang memiliki 4 musim). Sel-sel intersial di tempat-tempat tertentu mengadakan proliferasi dan bekambang menjadi gonad. Dalam hal ini ada yang berkembang membentuk ovarium dan ada yang berkembang membentuk testes. Selanjutnya dalam ovarium akan terjadi proses oogenesis dan terbentuk ovum, sedangkan di dalam ovarium akan terjadi proses oogenesis dan terbentuk ovum, sedangkam di dalam testis terjadi proses spermatoganesis dan terbentuk spermatozoid
g. Knidoblast atau Sel Jelatang
Sel-sel jelatang merupakan hasil perkembangan atau modifikasi dari sel intersial. Knidoblast berasal dari bahasa Yunani (Greek); knide = jelatang; blast = sel germ (calon). Di dalam knodoblast ditemukan kantong beracun yang disebut nematosist. Nematokist berfungsi sebagai alat pertahanan diri dari serangan musuh maupun untuk melumpuhkan calon mangsanya agar mudah ditangkap dan dicerna dalam proses pencernaan makanan. Sel jelatang ini ditemukan hampir diseluruh bagian dari lapisan epidermis, lebih-lebih di bagian epidermis dari tentakel maupun yang berada di sekitar hipostome (mulut), kecuali di bagian basal. Biasanya sel-sel jelatang ini terletak diantara sel-sel epitheliomoskular, tetapi sel-sel jelatang yang ditemukan di bagian tentakel justru terletak di dalam sel epitheliomuskular. Sel-sel epitheliomuskular yang mengandung sel jelatang diberi nama sel induk semang atau sel batteri
Nematokist atau kantong penyengat ditemukan pada semua bagian tubuh Hydra, kecuali pada bagian basal. Jumlah nemakist sangat banyak pada bagian tentakel. Masing=masing nematokist berkembang dari sebuah sel intersial yang dikenal dengan knidoblast. Knidoblast tertanam pada tuberkel-tuberkel (benjolan-benjolan) kecil di permukaan dinding tentakel, sehingga membuat tubuhnya tampak kasar. Tuberkel-tuberkel ini sebenarnya adalah sel-sel epidermis yang di dalamnya berkembang satu nematokist besar dan beberapanemetokist yang lebih kecil.
Lebih lanjut dikatakan bahwa ada 4 tipe nematokist yaitu : tipe penetrant, tipe volvent, tipe streptoline glutinant, dan tipe steroline glutinant.
a. Tipe penetrant, atau stenotele merupakan tip nematokist terbesar. Nematokist ini berukuran panjang 0,0013 mm dan tebal 0.007 mm. Sebelum dilepaskan bentuknya menterupai buah pear dan menempati sebagian besar ruang sel. Di dalamnya terdapat sebuah tabung penggulung yang pada bagian dasarnya terdapat tiga buah duri besar dan sejumlah duri-duri kecil. Ujung benangnya terbuka yang akan digunakan menusuk mangsanya dengan mengeluarkan racun.
b. Tipe glutinant atau adhesive, ada dua macam yakni :
1) Tipe holotrichonus ishoriza, atau streptoline glutinant. Tipe ini berukuran besar dan berbentuk silindris, pada ujungnya meruncing sebagai tempat keluarnya benang lasso. Pada saat benang lasso dikeluarkan sederetan duri-duri kecil yang melingkar akan menggulung.
2) Tipe atrichous isorhiza, atau stereoline glutinant. Tipe ini berukuran kecil dan berbentuk oval. Didalamnya terdapat sebuah benang lasso yang lurus tanpa disertai duri-duri kecil pada saat dikeluarkan.
c. Tipe volvent, atau desmomenes, tipe ini berukuran paling kecil dan berbentuk pyriform, berisi benang tebal dan halus dalam sebuah lilitan. Pada saat dikeluarkan benang ini akan membentuk suatu lilitan yang sangat ketat
Tipe penetrant dan volvent berfungsi khusus dalam penangkapan mangsa, sedangkan tipe streptoline glutinant dan stereoline glutinant berfungsi dalam membantu pergerakan. Tipe penetrant dilengkapi dengan zat racun jenis hypnotoksin yang efeknya dapa melumpuhkan tubuh korban (mangsa).
Tojolan pada knidoblast, yang berdekatan dengan ujung luar dan nematokist, merupakan sebuah duri pemicu dan disebut sebagai knidosil. Nematokist yang meletus akan melepaskan sedikit asam asetat atai methyl hijau ke dalam air.
2) Lapisan Gastrodermis
Lapisan gastrodermis atau yang disebut lapisan endodermis, merupakan dising dari rongga gastrivaskular atau enteron. Struktur histologist dari lapisan ini sangat sederhana. Lapisan gastridermis ini di bangun oleh macam sel-sel seperti yang akan diuraikan berikut.

a. Sel nutritive (sel flagel dan ameboid) dan sel endothelio-muskular
Sel-sel endhothelio-muskular ini bentuknya seperti gada atau pentung, ujung basalnya melekat pada lapisan mesoglea sedangkan ujung bebas menjorok kedalam rongga enteron. Bagian muscular yang berada di bagian ujung basal membuat tonjolan atau prosesus yang tersusun secara transversal di dalam lapisan mesoglea dan membentuk substansi sirkular. Bila substansi sirkular ini sedang berkontraksi akan menyebabkan tubuh Hydra mengecil dan memanjang. Substansi sirkular bentuk antagonistis dari substansi longitudinal yang berada di dalam lapisan epidermis.
Kerja sama antara kedua jenis substansi ini menyebabkan tubuh Hydra yang bersangkutan dapat dijulurkan atau dipendekkan. Khusus bagi substansi sirkular mulut dan bagian basal dari tentakel berfungsi sebagai otot penjaga pintu atau sfingster, artinya bertugas menutup lubang mulut ataupun saluran yang menuju ke dalam tentakel. Ujung bebas dari sel ini dilengkapi dengan flagella yang karena gerakannya dapat menyebabkan terjadinya aliran cairan makanan cairan makanan di dalam rongga enteron. Di samping flagella, ujung bebas dari sel ini juga dilengkapi dengan mikrofili-mikrofili atau semacam jonjot yang berfungsi untuk melancarkan proses penyerapan sari-sari makanan ke dalam tubuh Hydra. Kelancaran proses pinositis maupun hubungan desmosome yang terdapat diantara sel nutritive yang satu dengan lainnya.

b. Sel Endothelio-Grandular atau Sel Sekretoris
Sel-sel endothelio-grandular ukurannya lebih kecil bila dibandingkan dengan sel endothelio-muskular bentuknya lebih kecil, bentuknya bulat atau oval terdapat khusus di bagian ujung atau konus dari jajaran sel-sel nutritife. Seperti halnya sel endothelio-muskular maka sel sekretoris atau sel kelenjar ini pun juga dilengkapi flagella. Di dalam sel ini banyak ditemukan granula-granula sekretoris yang akan menghasilkan sekreta yang menghasilkan enzyme ke dalam rongga enteron.
Di sekitar hipostome atau mulut sel kelenjar ini akan menghasilkan skretanya yang berupa zat mukosa yang berfungsi sebagai zat pelumas maupun sebagai penghancur tubuh mangsanya. Sel-sel kelenjar semacam ini tidak ditemukan di bagian tentakel. Di bagian cakram basal ditemukan sel-sel kelenjar yang menghasilkan sekreta yang bersifat licin yang berfungsi sebagai sarana gerak luncur yang dilakukan yang dilakukan oleh Hydra yang bersangkutan.

c. Sel intertisial
Seperti halnya pada lapisan epidermis, di dalam lapisan gastrodermis ini juga ditemukan beberapa sel intersial. Selsel ini berfungsi sebagai sel cadangan, yang nantinya dapat berkembang menjadi sel lain bila diperlukan.

d. Sel sensoris
Bila dibandingkan dengan sel sensoris yang ditemukan di dalam lapisan epidermis, maka sel sensoris di sisni bentuknya lebih besar dan dilengkapi dengan flagellum.

e. Sel saraf
Seperti halnya lapisan epidermis, maka didalam lapisan gatrodermis ini juga ditemukan sel-sel saraf, tetapi jumlahnya tidak sebanyak sel-sel saraf yang ditemukan di dalam lapisan epidermis.

f. Butir-butir Plastia
Di dalam sel gastrodermal dari genus Hydra tertentu ditemukan adanya butir-butir plastida. Butir-butir plastida tersebut sebetulnya bukan merupakan milik atau sebagian dari tubuh Hydra itu sendiri, melainkan milik sel-sel ganggang (alga) yang hidup bersama (endosimbiosis) misalnya pada hewan Chlorohydra viridissima di bagian gastridermalnya ditemukan sel-sel ganggang jenis Zoochlorella, yaitu Chorella vulgaris, sedangkan pada genus Pelmathophyhydra di dalam sel gastrodermalnya ditemukan sel-sel ganggang jenis Zooxanthellae.

D. Cara Makan dan Pencernaan Hydra
Pada prisipnya, makanan Hydra berupa hewan-hewan yang berukura kecil seperti microcrustacea (copepod ; Cyclops), Annelida atau larva-larva insekta yang hidup di dalam air. Kadang-kadang Hydra menelan mangsanya, justru yang ukurannya lebih besar dari pada ukuran tubuhnya sendiri. Hydra yang sedang kelaparan mempunyai kebiasaan berdiri tegak diatas cakram basalnya dengan tentakel-tentakel yang digapai-gapai seolah-olah akan meraih tubuh mangsanya. Bila sekiranya sebuah tentakelnya telah menyentuh tubuh mangsanya , maka nematokist-nematokist segera bekerja. Nemetokist tipe penetrant segera menembakkan panah beracunnya yang mengandung hipnotoksin paralisis, sedangkan nematokist tipe volvent bekerja dengan benang lassonya untuk mnjerat kaki-kaki atau apendiks tubuh mangsanya, dan nematokist tipe glitinannya membantu mempercepat proses penggulungan mangsanya untuk ditarik ke dekat tubuhnya.
Tubuh mangsa yang telah tertangkap tersebut segera dimasukkan ke dalam tubuhnya (hipostome), kemudian ditelan masuk kedalam liang enteron. Kelancaran proses penelanan makanan dibantu oleh adanya sekreta yang dihasilkan oleh sel-sel kelenjar. Setelah tubuhnya mangsanya tersebut tiba di liang enteron, maka segera dicerna oleh enzim-enzim yang dihasilkan oleh sel-sel sekretoris dari lapisan gestrodermis. Karena sel endothelio-muskular, maka proses pengadukan partikel makanan di enzim-enzim pencernaan. Partikel-partikel makanan yang telah mengalami proses pencernaan sarinya akan segera diserap oleh sel-sel nutritive. Cara penyerapan sari makanan dapat berlangsung secara pinositis, fagositisis, ataupun secara osmosis.
Proses pencernaan dalam tubuh Hydra berlangsung secara ekstraselular dan dilanjutkan secara intraselular oleh sel-sel berflagel. Selanjutnya sari-sari makanan tersebut akan diedarkan keseluruh bagian tubuh oleh dinding gastrodermis, dengan demikian system enteronnya mengemban dua system sekaligus yaitu sebagai alat pencerna dan sebagai alat transportasi sehingga dikatakan bahwa system enteron Hydra bersifat sebagai system gatrovaskular. Partikel-partikel makanan yang tidak tercerna misalnya kutikula dan lainnya akan dikeluarkan dari tubuh dengan jalan dimuntahkan kembali lewat mulut. Cadangan makanan dalam tubuh Hydra akan disimpan dalam bentuk glikogen, didalam sel-sel nutritive dan lapisan gastridernis. Bila sekitarnya cadangan makanan tersebut digunakan, maka simpanan glikogen tersebut akan biubah kembali menjadi bentuk gula terlarut (glukosa) kemudian secara difusi dan osmosis akan diedarkan ke seluruh tubuh.

E. Respirasi dan Ekskresi
Pertukaran gas pada Hydra terjadi secara langsung pada permukaan tubuhnya. Hal ini tidak mempunyai organ khusus untuk pernafasan, pembuanagan hasil ekskresi, dan juga tidak mempunyai darah serta system peredaran darah. Semua organ-organ itu bagi Hydra tidak diperlikan, sebab tubuhnya tersusun atas deretan sel-sel yang sebagian besar masih bebas bersentuhan langsung dengan air yang ada disekitarnya. Di samping itu dinding tubuh Hydra merupakan dinding tipis, oleh sebab itu pertukaran gas oksigen dan karbondioksida maupun zat-zat sampah dari bahan nitrogen tidak menjadi persoalan bagi tubuh Hydra. Pertukaran zat tersebut berlangsung secara langsung dengan dunia luar secara difusi osmosis melalui membrane dari masing-masing sel. Dengan perkataan lain proses pernafasan maupun pembuangan sisa metabolisme dilakukan secara mandiri oleh masing-masing sel yang bersangkutan.

F. Cara Gerak
Tangkai tubuh dan tentakel Hydra dapat digerakkan karena adanya kontraksi dari fibril-fibril otot yang memanjang pada bentalan epidermis. Gerak pada Hydra dapat terjadi karena adanya rangsangan dari lingkungan atau gerak spontan. Menurut hasil pangamatan, ternyata cara bergerak Hydra dapat dibedakan menjadi 8 pola gerak yaitu ; gerak spontan, gerak seperti ulat kilan, gerak merayap, gerakan salto, gerak memanjat, gerak mengapung, gerak melayang, dan gerak melayang.
a. Gerak Spontan
Gerak spontan biasanya dilakukan bila Hydra sedang beristirahat dengan melekatkan diri pada suatu subjek pada kaki cakramnya. Secara berkala 5 hingga 10 menit sekali secara spontan hewan itu memanjang-mendekkan tubuhnya. Bila bergerak berkali-kali dilakukan, maka hewan akan beristirahat, kemudian aka melakukan grak spontan lagi tetapi dengan mengambil arah lain.

b. Gerak Seperti Ulat Kilan
Gerak ini mula-mula dilakukan dengan membungkukkan tubuhnya. Dalam posisi membungkuk maka tentakel yang memiliki nematokist glutinant akan berpegang pada suatu objek. Dalam possisi tersebut, bagian pangkal tubuh akan bergeser mendekati posisi bagian tentakel yang telah melekat pada objek. Begitu seterusnya sehingga tampak adanya gerak seperti gerak ulat kilan.
c. Gerak Merayap
Pada saat melakukan gerak ini mula-mula tubuhnya dibungkukkan dengan tentakel berpegang pada suatu objek dengan posisi cakram basal di atas, sehingga yang bersangkutan berdiri dengan bagian tubuh di bawah, setelah itu Hydra bergerak merayap dengan menggunakan tentakelnya.
d. Gerak salto
Gerak ini pada prinsipnya sama dengan gerak seperti ulat kilan. Bedanya adalah Hydra-nya mengadakan gerak jungkir balik akrobatik. Mula-mula tubuhnya dibungkukkan kemudian hewan berdiri dengan posisi mulut di bawah dan cakram basal di atas, setelah itu tubuhnya dibungkukkan lagi sehingga untuk berdiri dengan posisi bagian ckram basal di bawah dan mulut di atas, begitu seterusnya seperti gerak orang yang melakukan salto.
e. Gerak memanjat
Dengan menggunakan tentakelnya, Hydra dapat berpindah tempat dengan bergelantungan pada suatu objek yang satu ke objek yang lain sperti halnya tarzan sedang berayun dari dahan satu pindah ke dahan yang lain.
f. Gerak Mengapung
Dalam gerak ini tubuhnya diapungkan di permukaan air untuk untuk dibiarkan emana akan dibawa oleh air. Kadang-kadang Hydra tersebut dalam pengapungannya menggunakan sehelai daun sebagai alat pengapungnya.


g. Gerak Melayang
Maksud gerak melayang dinsinilah melayang dekat permukaan air. Prinsipnya sama dengan gerak mengaung tetapi dalam hal ini menggunakan gelembung-gelembung gas sebagai alat layangnya. Adapun gelembung-gelembung gas tersebut merupakan produksi dari sel kelenjar yang terletak di daerah cakram basal.
h. Gerak Meluncur
Dengan menggunakan zat lendir yang dihasikan oleh sel-sel kelenjar yang berada di daerah cakram basal, Hydra bergerak meluncur seperti halnya orang bermain ski.
G. Sistem Reproduksi
Walaupun belum ditemukan adanya organ-organ kelamin khusus, spserti halnya ovarium dan testes yang permanen seperti pada hewan-hewan tingkat tinggi, Hydra mempunyai cara-cara reproduksi, baik secara aseksual maupun secara seksual.

1. Reproduksi secara Aseksual
Hydra melakukan reproduksi atau perkembangbiakan secara aseksual dengan: membentuk kuncup dan dengan membelah diri.

a. Membentuk Kuncup
Bila keadaan dan kondisi tubuh Hydra telah memadai maka di bagian tengah-tengah batang tubuhnya, yang disebut zona pembentukannya kuncup sel-sel interstial aan membelah diri secara ceapt dan membentuk tojolan. Tojolan tersebut semakin lama tumbuh menjadi sutu tonjolan yang makin lama akan semakin bertambah besar, dan selanjutnya dusebut kuncup. Pada kuncup tersebut akan terbentuk mulut dan tentakel-tentakel kuncup. Bila kuncup tersebut telah terbentuk secara sempurna maka akan memisahkan diri dari tubuh induk yau berkembang menjadi Hydra baru.

b. Membelah Diri
Hydra juga mampu berkembangbiak scar aseksual dengan membelah diri, baik membelah secara ransversal maupunsecara longitudinal . peerkembangbiakan seperti ini biasanya dilakukan tidak secara regular artinya secar insidensial atau kadang-kadang saja, misalnya pada kejadian regenerasi yang berlangsung secara abnormal
2. Reproduksi secara Seksual
Di dalam perkembangbiakan secara seksual atau gneratif, pada umumnya Hydra bersifat hermaprodit, tetapi ada juga yang tidak. Pembentukan gonad hanya terjadi pada musim tertentu saja. Ovariumnya berbentuk bulat, sedangkan testesnya berbentuk seperti konus, yang keduanya terjadi dari hasil perkembangan sel-sel intersial. Tahap reproduksi secara seksual adalah sebagai berikut.
a. Spermatogenesis
Sel-sel jantan terbentuk di bawah lekukan konus dan bagian ini disebut testes. Bagian tersebut sebenarnya merupakan penonjolan dipermukaan tubuh, testes terbentuk dalam lapisan epidermis dari sel-sel intersial. Sebuah sel intersial membelah membelah secara miosis dan diikuiti olehsel-sel didekatnya. Akibatnya lapisan epidermis menjadi menggelembung. Selanjutnya sejumlah kista yang memanjang dan berinti banyak terbentuk di dalam testes. Setiap kista dibentuk dari sebuah atau beberapa interstial. Setiap sel intersial merupakan sebuah sel germinal primordial. Sel-sel intersial meningkat jumlahnya secar mitosis menjadi sebuah spermatogonia. Masing-masing memiliki 12 buah kromosom. Reduksi jumlah kromosom menjadi 6 buah terjadi stelah sel membelah diri secar meiosis dan membentuk sprmatosit primer. Berikutnya membelah sekalilagi menjadi spermatosit sekunder, dan akhirnya menjadi spermatid. Pembentukan kedua spermatosit tersebut tidak diikuti dengan pembelahan atau pemisahan membrane sel, sehingga terbentuk sel berinti empat. Masing-masing anti akhirnya membentuk 4 spermatozoa. Di dalam satu kista terdapat semua fase pembentukan sperma, yakni spermatogonia, spermatosit primer, spermatosit sekunder, spermatid, dan spermatozoa.
Spermatozoa yang telah masak akan berenang-renang di seputar ujungdistal testes yang akhirnya akankeluar melalui lubang-lubang kecil yang terdaat pada kulit peutup testes. Setelah di luar spermatozoa-spermatozoa tersebut akan berenang-renang memnuju ke tempat ovarium untuk menemui ovum. Setelah di luar tubuh Hydra spermatozoa-spermatozoa tersebut hanya sampai kira-kira 3 hari.
b. Oogenis
Ovum berasal dari perkembangan sebuah sel intersial yang berada di dalam lapisan epidermis, yang berubah ukurannya menjadi sedikit lebih besar. Demikian juga demham nukleusnya dengan bentuk spheris. Dalm pertumbuhan selanjutnya sel-sel tetangganya juga ikut tumbuh membesar sehingga secara keseluruhan akan disebut ovarium. Di dalam satu ovarium biasanya ada stu atau dua ovum. Disamping itu sel-sel intersial yang berdekatan dengan sel telur. Sebuah sel telur yang telah masak mengandung 6 buah kromosom, sedangkan ovariumnya mengandung 12 buah kromosom.
c. Fertilisasi
Pembuahan tejadi selama waktu kurang lebih 2 jam, yaitu setelah spermatozoid yang masuk dan berhasil menembus telur (penetrasi). Jika dalam waktu 24 jam telur tidak terbuahi maka telur akan manjadi steril. Spermstozoid yang masuk intinya membawa 6 kromosom, yang kemudian ersatu atau fusi dengan 6 kromosom dari inti telur, terbentuklah zigot dengan inti yang mengandung 12 kromosom.
d. Embriologi dan Penetasan (hatching)
Zigot yang terbentuk akan segera mengalami proses pembelahan menjadi blastula yang dibungkus dalam suatu kista. Seteah embrio terbentuk maka kista akan keluar dan jatuh di dalam air. Setelah 10 atau 70 hari kemudian, dari dalam kista tersebut aka menetaslah (muncullah) seekor Hydra muda yang lengkap dengan tentakelnya yang pendek. Berarti dalam hal ini proses pertumbuhan Hydra tidak melaui fase larva.

H. Sifat-Sifat Lain Hydra
1. Sifat regenerasi
Trembley dalam hegber (1968) malaporkan bahwa Hydra mempunyai daya regenerasi sangat besar, bila karena suatu sebab tubuh Hydra putus menjadi dua bagian maka masing-masing bagian akan tumbuh maenjadi Hydra baru dengan mengikuti prinsip polilarisasi.

2. Sifat imortalitas
Imortalitas ialah suatu sifat yang dimiliki oleh organism dimana jaringan tubuhnya senantiasa dengan jalan melepas sel-sel yang tua atau diganti dengan sel-sl yang baru. Brien dalam Sugeng.P (1982) menemukan bahwa pada tubuh Hydra ada suatu daerah yang disebut ziona pertumbuhan, yang terletak di skitar hypostome. Pada daerah itu sel-sel intersial senantiasa mengadakan pertumbuahn dan perkembangan untuk mengganti sel-sel yang sudah tua. Arah peerkembangan dan pertumbuhan sel-sel intersial menuju kearah tentakel amupun kerah ckram basal. Sebagi hasilnya sel-sel yang sudah tua akan dikeluarkan dan kemudian tempatnya digantikan oleh sel-sel intersial. Proses ini berlangsung secara terus menerus setiap 45 hari sekali. Karena proses penggantian sel-sel tersebut tidak ada akhirnya maka menyebabkan tubuh Hydra senantiasa dalam keadaan dinamis atau imortalis ( Nugroho, 2009).

3. Proses Enten atau Menyambung
Enten pada Hydra adalah proses penyambungan antara pokok suatu spesies dengan pokok spesies yang lain. Bila tubuh Hydra yang satu dipotong kemudian ditempelkan apda bekas potongan dari tubuh Hydra yang lain, maka antara kedua potongan yang ditempel tersebut dapat bersambungan dan tumbuh menjadi Hydra yang baru sebagai hasil enten. Sehubungan dengan sifat regenerasi yang dimiliki oleh Hydra, oleh Trembley juga dilaporkan bila sekiranya kepala suatu Hydra disayat menjadi dus bagian secara longitudinal maka msing-masing belahan tersebut akan tumbuh menjadi “kepala” baru, sehingga terbentuklah makhluk Hydra baru berbntuk seperti huruf Y.



2.2.1.2 Obelia (Hydrozoa laut)

A. Habitat dan Habitus Obelia
Obelia merupakan contoh anggota dari kelas Hydrozoa yang hidup di perairan laut. Di dalam siklus hidupnya, Obelia mengalami pergiliran keturunan (metagenesis) antara fase hydroid dan polip dengan fase medusoid atau “kwall”. Fase hydroidnya hidup secara berkoloni dan terikat pada suatu obyek (menetap pada suatu tempat), sedang fase medusoidnya hidup bebas berpindah tempat karena dapat berenang kemana-mana. Sifat hidup Obelia adalah soliter. Antara fase hydroid dengan fase medusoidnya sangat berbeda, baik dari sgi struktur maupun morfologi tubuhnya. Dengan demikian Obelia menunjukkan gejala polimorfisme.
B. Fase Polip Obelia
Pada fase hydroid Obelia hidupnya secara berkoloni. Mereka terikat pada suatu tempat dengan bagian tubuhnya yang disebut hydrorhiza. Hydroid Obelia hidup di perairan laut hingga kedalaman 80 m atau lebih dan tersebar secara kosmopolitan. Obelia yang ditemukan di kawasan perairan laut yang dangkal biasanya melekatkan diri pada batu-batuan, karang, pohon-pohon yang tumbang ataupun ditumbuhan air lainnya misalnya ganggang laminaria dan lain-lain.
Koloni Obelia bersifat polimorfi. Biasanya tumbuh dari suatu individu yang menyerupai Hydra. Dari tubuhnya yang menyerupai Hydra tersebut muncul kuncup-kuncupnya. Tidak seperti halnya dengan Hydra, kuncup tidak terus melepaskan diri dari tubuh induknya melainkan tetap melekat pada tubuh induk dan tumbuh menjadi dewasa bersama-sama induknya serta kuncup-kuncup yang lain,sehingga membentuk koloni. Penampilan fase polip tampak seperti tumbuh-tumbuhan,tetapi sebetulnya adalah hewan. Berdasarkan hal ini maka Obelia dimasukkan dalam kelompok zoopyta. Perincian bagian-bagian tubuh hydroid dapat diuraikan, yaitu koloni hydroid melekat pada suatu substrat dengan bagian tubuh yang disebut hydrorhiza. Hidrorrhiza mendukung bagian tubuh berbentuk seperti batang yang disebut hydrocauilis. Pada hydrocoulus tersebut tumbuh berates-ratus cabang dengan diameter kurang lebih 0,5 inchi. Cabang-cabang tersebut ada 2 macam, yaitu cabang yang khusus berkaitan dengan sifat vegetative (makan) disebut hydranth, dan tipe yang lain yaitu cabang yang khusus berkaitan dengan sifat generative (reproduksi) yang disebut gonangium. Hydranth, juga disebut polip pencari makan, semua urusan vegetatif dari koloni Hydroid diurus oleh polip ini. Bentuknya seperti kantong yang silindris atau konus, warnanya kekuning-kuningan. Bagian basalnya berhubungan langsung dengan bagian Hydrocaulus.
Mulut pada Obelia, muncul dari bagian yang disebut hydrotheca, disekitar mulut dikelilingi oleh 20 buah tentakel. Bila batang vertikal dari hidrokauli telah mengalami pertumbuhan secara penuh, maka akan dihasilkan cabang khusus yang disebut gonangium. Pembentukan cabang tipe inijumlahnya kurang bila dibandingkan dengan cabang tipe Hydranth. Gonangium tidak dilengkapi dengan tentakel maupun mulut,oleh karena itu tugasnya tidak untuk mengurusi penangkapan maupun pencernaan makanan,melainkan dengan soal perkembanganbiakan dari hewan ini. Gonangium hanya bertugas khusus membentuk kuncup calon medusa.
Medusa merupakan salah satu dari fase hidup Obelia. Di bagian tengah-tengah gonangium ditemukan poros yang disebut blastostyle. Blastostyle bertugas membentuk kuncup-kuncup yang kelak akan berkembang menjadi medusa atau ubur-ubur. Bila telah tiba saaatnya, kuncup-kuncup tersebut akan melepaskan diri dari blastostyle dan keluar dari dalam gonotheca dari gonangium melalui lubang yang disebut gonopore. Gonotheca adalah selaput pelindung gonangium.setelah tiba dilingkungan eksterna, artinya dilaut bebas, mereka akan melanjutkan hidupnya dari fase baru yang disebut medusa atau gonophora atau ubur-ubur.
Pada hydrocaulus bagian batang tubuh tersusun atas jaringan atau sel-sel sederhana dan disebut koenosark, sedangkan bagian luarnya merupakan lapisan tipis non-selular dan bersifat transparan yang disebut perisark. Secara histologis baik bagian blastostile, kuncup calon medusa, maupun bagian koenosark adalah sama dengan dinding tubuh Hydra, artinya juga terdiri atas lapisan gastrodermis,epidermis, dan mesoglea.
C. Fase Medusa
Pada Obelia, fase medusa merupakan fase generative yang dibentuk secara vegetatifoleh fase hydroid. Medusa berbebtuk seperti paying dengan diameter tubuh sekitar 6 atau 7 mm. hidupnya tidak secara berkoloni melainkan secara soliter. Permukaan atas berbentuk konveks (cembung), sedangkan permukaan bawah konkaf (cekung). Permukaan konveks dinamakan permukaan aboral (berlawanan dengan letak mulut), sedangkan permukaan konkafnya disebut permukaan oral. Ditengah-tengah permukaan oral ditemukan lubang mulut yang berhelambir empat. Mulut tersebut sebetulnya merupakan lubang awal dari suatu saluran yang dindingnya berlendir yang disebut manubrium. Saluran manubrium bermuara ke dalam rongga gastrovaskuler atau perut besar. Rongga gastrovaskuler ini dihubungkan dengan saluran cincin yang melingkar di bagian tepi tubu oleh saluran radial yang berjumlah empat.tubuh medusa ini dilengkapi dengan 16-80 buah tentakel yang bergelantungan dipermukaan oral dekat bagian tepi tubuh.
Medusa merupakan hewan yang berkelamin terpisah, artinya ada medusa jantan dan medusa betina. Medusa Obelia memiliki empat buah gonad, yang terletak di bagian permukaan oral, yaitu kira-kira ditengah-tengah saluran radial. Gonad tersebut membentuk oval seperti knop. Proses pemasangan gonad terjadi setelah medusa lepas dari gonotheka. Bila gonad telah masak maka dinding epidermis yang menyelubunginya akan pecah, dan dari tempat tersebut spermatozoid ataupun ovumnya akan keluar masuk ke dalam air.
D. Aspek-Aspek Fisiologis Obelia
1. Makanan dan Pencernaannya
Seperti halnya Hydra, maka koloni hydroid Obelia bersifat karnivora, artinya makanannya berupa hewan-hewan kecil yang hidup di dalam laut, seperti: mikro-crustacea, mikro-nematoda dan lain-lain. Baik cara menangkap,cara mencerna dan cara pengedaran sri makanan polanya serupa seperti Hydra. Perbedaan antara dua kelompok hewan tersebut adalah tidak semua cabang polip Obelia mengurus makanan. Makanan hanya diurus oleh cabang-cabang polip tertentu yang disebut Hydranth.
Dalam hal makanan medusa Obelia bersifat kanivor, yakni berupa cacing-cacing kecil, udang-udang kecil maupun larva-larva inskta yang hidup di perairan laut. Mangsa mula-mula ditangkap oleh tentakel yang dibantu oleh nematokistnya, dan kemudian dimasukkan mulut dan eteron atau gastrovaskular. Di dalam rongga gastrovaskular mangsa tersebut mengalami proses pencernaan scara ekstra selular maupun secara intra selular. Proses pencernaan secara ekstra selular berlangsung ketika tubuh mangsanya masih di dalam rongga gastrovaskularyaitu dicernakan oleh getah-getah pencerna yang dihasilkan oleh sel-sel amoeboid yang ditemukan di dalam dinding gastrovaskularnya. Pada dasarnya proses pencenaan secara intra selular itu merupakan lanjutan dari proses pencernaan secara ekstra selular yang terjadi di dalam sel-sel pencerna dalam vakuola-vakuola makanan.
2. Pergerakan
Koloni hydroid merupakan hewan yang digolongkan pada kelompok zoophyte, artinya hewan yang menyerupai tumbuhan. Hewan ini tidak dapat bergerakdalam arti tidak dapat berpindah tempat. Hidupnya menetap pada suatu tempat dengan jalan mengikatkan diri pada suatu obyek atau substrat tertentu.
Medusa merupakan hewan yang dapat bergerak atau berenang secara aktif, yaitu dengan jalan mengembang- kempiskan tubuhnya yang berbentuk seperti payung. Ada kalanya dalam gerak berenang posisi tubuhnya yang berbentuk seperti payung itu tidak dalam poisi normal melainkan dalam posisi permukkan oralnya terbalik ke atas.

3. Respirasi dan Ekskresi
Baik pada fase hydroid maupun fase medusa, Obelia tidak mempunyai alat khusus untuk respirasi aupun untuk mengeluarkan hasil ekskresi. Pengambilan oksigen dari lingkungan air di sekitarnyal, pengeluaran gas karbondioksida, pengeluaran zat- zat sampah yang merupakan sisa- sisa metabolisme dilakukan dengan jalan difusi- osmosis secara langsung oleh sel-sel epidermal maupun gastrodermalnya. Jadi dalam hal ini polanya tidak berbeda dengan Hydra.

4. Sistem Susunan Saraf dan Alat Indera
Pada koloni hydroid hanya ditemukan sistem sususnan syaraf, sadangkan alat indera (sense organ) tidak ditemukan. Susunana syaraf masih primitif, terjadi dari sel- sel syaraf yang kedudukannya tersebar tanpa memiliki pusat. Dalam arti belum ditemukan adanay sistem koordinasi sehingga sedikit banyak setiap sel syaraf bekerja secara mandiri. Susunan syaraf yang demikan ini disebut bersistem difus.
Pada medusa, di samping ditemukan susunan syaraf yang bersistem difus seperti halnya pada Hydra maupun koloni hydroid, juga ditemukan alat indera atau sense organs yang berupa kantong- kantong kecil yang disebut statokist atau marginal vesikal. Di dalam statokist tersebut ditemukan cairan dan sebuah kepingan CaCO3 kecil yang dapat dipindah dengan menggelinding yang disebut statolith. Kepingan kapur tersebut merupakan hasil sekresi dari sel litosit. Alat indera semacam ini berfungsi sebagai alat keseimbangan dan alat koordinasi bagi sistem kerja muskular (fibril- fibril otot). Alat ini terletak di bagian basal dari kedelapan buah tentakel, tidak jauh dari pinggiran tubuh yang menghadap ke permukaan oral.

5. Sistem Reproduksi dan Siklus Hidup Obelia

Gambar 2.6 Siklus Hidup Obelia
http://gurungeblog.wordpress.com/2008/11/10/mengenal-obelia.jpg

Medusa yang dihasilkan oleh polip gonangium dari koloni hidroid itu ada yang jantan dan ada yang betina. Setelah hidip bebas dan mandiri di laut, medusa jantan akan menghasilkan spermatozoid sedangkan medusa betina menghasilkan ovum. Baik spermatozoid maupun ovum masing- masing akan dikeluarkan ke dalam air laut. Medusa- medusa yang telah mengeluarkan sperma kemudian akan mati. Perkawinan atau pembuahan ovum oleh sperma terjadi di dalam air laut. Dari hasil pembuahan akan terjadi zigot. Selanjutnya pada zigot terjadilah proses pembelahan berulang kali sehingga terjadilah bentuk morula. Dari morula akhirnya berubah menjadi apa yang disbut blastula.
Dalam proses pekembangannya, blastula akan berubah menjadi larva yang berambut getar yang disebut planula. Dengan rambut- rambut getarnya maka planula akan berenang- renang untuk mendapatkan tempat yang sesuai bagi perkembangan hidup selanjutnya. Setelah menemukan lingkungan hidup yang sesuai maka planula tersebut akan melekatkan diri pada suatu objek dengan perantaraan blastopornya. Planula yang telah melekatkan diri pada suatu objek tersebut secara berangur- angsur akan tumbuh menjadi koloni hydroid muda. Dari tubuh koloni hydroid tumbuh polip- polip hydrant maupun polip gonangium. Polip gonangium akan membentuk medusa- medusa secara vegetatif.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa Obelia dalam siklus hidupnya mengalami peristiwa metagenesis atau pergiliran keturunan antar reproduksi secara vegetatif (pada fase polip) dengan reproduksi secara generatif (pada fase medusa). Disamping itu, Obelia menunjukkan gejala poliformisme, ysitu pada tubuh koloni hidroidnya ditemukan bentuk atau tipe polip yang berbeda dengan fungsi yang berbeda pula.

E. Contoh Hydrozoa yang Lain
Physalia (“Kapal Perang Portugis”)
Masih sangat banyak contoh- contoh lain anggota dari Hydrozoa, antara lain Physalia, Bougainvilla, Tubularia, Eudendrium, dan lain- lain. Diantara contoh- contoh tersebut yang akan dibahas lebih detail adalah Physalia. Hal ini karena hewan ini mudah dikenal dan sangat berbahaya karena racunnya sangat mematikan.
Phisalia, merupakan anggota Hydrozoa dari ordo Siphonophora yang hidupnya juga berkoloni dan koloninya berbentuk unik atau berbeda dari yang lain. Koloni Physalia dilengkapi alat pelampung yang bentuknya seperti balon, yang disebut pneumatophora. Pneumathopora memanjang dan menggelembung di tengah, sedangkan kedua ujungnya agak meruncing. Bentuk koloni tersebut dapat diibaratkan sebagai kapal. Bagian tengah pelampung yang menggelembung itu merupakan layarnya. Sebagai contoh spesiesnya adalah Physalia pelagica (“Kapal Perang Portugis”). Tinggi pelampungnya dapat mencapai 12 cm, dan daktilozooidnya dapat mencapai 45 feet atau 112 cm. Di bawah alat pelampung ditemukan jaringan penghasil gas dan rongga gastrovaskular yang luas. Di bagian ini pula ditemukan batang tubuh koloni yang telah mengalami rudimenter sehingga tinggal merupakan kuncup coenosark saja. Dari kuncup inilah bergantung apa yang disebut “group cormidia”, yang antara lain terdiri dari polip- polip yang telah mengalami spesialisasi dalam tugas maupun bentuknya.Ada tiga tipe polip yang bergelantung di bagian bawah alat pelampung, yaitu:
1. Polip tipe gastrozooid yang khususnya mengurus pencernaan makanan.
2. Polip daktilozooid yang khususnya mengurus penangkapan mangsa.
3. Polip gonozooid atau gonoporha yang khusus mengurus pembentukan medusa.
Karena adanya ketiga tipe polip tersebut yang masing-masing berbeda dalam tugas maupun bentuknya, maka dikatakan bahwa koloni Physalia menunjukkan gejala polimorfisme yang sangat kuat bila dibandingkan dengan anggota Coelenterata yang lainnya.
2.2.2 Kelas Scypozoa
Scypozoa berasal dari bahas Yunani; skyphos-zoon (skypohos = mangkok ; zoon = hewan), jadi Scyphozoa berarti hewan yang bentuk tubuhnya menyerupai mangkok. Seperti halnya kelas Hydrozoa, kelas Scyphozoa juga menunjukkan gejala metagenesis atau pergiliran keturunan, antarabfase polip dengan fase medusa. Hanya pada kelompok ini yang lebih menonjol dalam penampilan selama siklus hidupnya adalah fase medusa atau ubur-ubur, sedangkan fase polipnya berukuran kecil juga sukar dijumpai. Contoh yang amat popular dari anggota kelas Scyphozoa ini adalah : Aurelia aurita atau ubur-ubur.
Aurelia aurita (ubur-ubur).

Gambar 2.7 Contoh Scyphozoa
http://images.google.co.id/imglanding?q=scyphozoa&imgurl

A. Habitat dan Habitusnya
Ubur-ubur merupakan anggota kelas Scyphozoa yang mudah dikenal, karena bentuknya yang unik, yakni seperti paying dan berwarna putih/bening, ukurannya relative besar, sering ditemukan terdampar di tepi pantai, dan banyak dimanfaatkan untuk kerupuk ubur-ubur. Deskripsi berikut ini pada umumnya menitik beratkan tentang fase ubur-ubur (medusa) dari contoh kelas Scyphozoa, sedangkan fase polipnya tidak diuraikan karena kehidupannya tidak terlalu menonjol dibandingkan dengan fase medusanya. Polip Aurelia berukuran ± 5mm, terikat pada suatu objek di dasar laut. Ubur-ubur bentuknya seperti paying yang tidak begitu cembung. Diameter tubuhnya biasanya berkisar antara 7,5 cm hingga 30 cm, tetapi ada juga yang mencapai 60 cm. ubur-ubur biasa dijumpai di kawasan perairan pantai dan berenang-renag bebas kian kemari. Adakalanya beristirahat dengan menempelkan diri pada batu-batu karang. Penyebarannya bersifat cosmopolitan atau banyak ditemukan hamper disetiap daerah pantai/laut.
Tubuh ubur-ubur berwarna jernih transparan, sampai-sampai bentuk-bentuk seperti kristal yang ada pada lapisan mesoglea tampak denganjelas. Walaupun begitu di bagian tubuh tertentu tampak berwarna putih kebiru-biruan atau putih kemerah-merahan. Karena tubuh ubur-ubur jernih transparan maka gonad yang ada di dalm tubuhnya nampak jelas dari permukaan tubuhnya.


B. Makanan dan Pencernaan Makanan
Seperti halnya Hydra, saluran pencernaan makana pada ubur-ubur (Aurelia) berupa gastrovaskular. Dari tengah-tengah permukaan tubuh sebelah bawah (permukaan oral atau permukaan sub-umbella) muncullah semacam kerongkongan pendek menggantung ke bawah yang disebut manubrium. Di ujung distal manubrium tersebut terdapat lubang mulut yang berisi empat, setiap sisi atau sudut mulut dilengkapi semacam juluran pita yang menelunkup panjang yang disebut lengan-lengan mulut. Rongga mulut ini selanjutnya akan bersambung dengan saluran manubrium dan dan bermuara ke dalam rongga perut yang terbagi atas sebuah rongga sentral dan empat buah kantong gastric. Masing-masing kantong gastric dilengkapi dengan tentakel internal endodermal lengkap dengan nematokistnya, yang dapat digunakan untuk reparalisis (menghancurkan) korban atau mangsanya yang baru ditelannya. Dari kantong gastric akan muncul saluran yang disebut saluran radial. Saluran tersebut selanjutnya akan menerobos lapisan mesohlea untuk berhubungan dengan saluran cincin yang ada di bagian tepi tubuh ubur-ubur.

Gambar 2.8 Struktur Tubuh Ubur-Ubur
http://www.earlham.edu/~meckehe/scyphozoajellyfish.htm
Ubur-ubur ini makanannya berupa hewan-hewan kecil yang merupakan anggota zooplankton, misalnya udang-udang kecil,cacing, larva-larva insekta ataupun telur-telur hewan lain yang bergerombol bersama-sama onggokan plankton sebagai hewan yang hidupnya terapung-apung di perairan. Zat lender atau mukosa yang menutupi tubuhnya, terutama pada permukaan bawah, sangat membantu dalam hal pengumpulan hewan-hewan yang akan menjadi mangsanya. Zooplankton yang telah melekat atau berkumpul di bagian bawah tubuhnya akan disapu oleh flagel dan selanjutnya akan dicakup tangan-tangan mulut untuk dibawa masuk ke dalam mulutnya. Bulu-bulu getar yang menghiasi rumbai-rumbai tangan-tangan mulutnya cukup selektif dalam memilih makanan yang akan disantapnya. Artinya partikel-partikel yang tidak disukai akan ditolak atau tidak diikut sertakan dalam proses penelanan.
Setelah para korban atau mangsa masuk ke dalam mulut, kemudian melalui lorong manubrium selanjutnya ditampung dalam rongga gastrovaskular. Di rongga tersebut mangsa yang belum sempat mati akan digarap oleh nematokist-nematokist yang terdapat di dalam filament gastric untuk diparaliskan. Di dalam rongga gastrovaskular makanan tersebut dicampur dengan enzim yang dihasilkan oleh sel-sel kelenjar. Enzim tersebut sanggup mencernakan zat makanan yang berupa protein, karbohidrat, lemak, bahkan zat kitin sekalipun. Proses pencernaan yang terjadi di dalam rongga gastrovaskular semacam ini disebut proses pencernaan ekstraselular (Roenedi, 2009).
Partikel-partikel makana yang telah tercerna akan disalurkan keseluruh cabang saluran system gastrovaskular. Selanjutnya sari-sari makanan akan diserap oleh sel-sel nutritive dari lapisan gastrodermis. Sari-sari makanan tersebut akan ditampung dan diedarkan ke segala bagian tubuh oleh sel-sel pengembara atau sel-sel amoeboid. Di dalam sel pengembara, khususnya di dalam vakuola makanan, sari-sari makanan yang masih belum menjadi sederhana susunan molekul-molekulnya akan dicernakan lebih lanjut. Proses pencernaan yang terjadi di dalam vakuola makanan semacam ini dinamakan proses pencernaan intra-selular. Ubur-ubur biasanya menyimpan zat cadangan makanan berupa tetes glikogen yang disimpan di dalam sel-sel gastrodermal (Kastawi, 2005)

C. Respirasi dan Ekskresi
Seperti halnya Hydra, ubur-ubur ini tidak mempunyai alat respirasi maupun ekskresi yang khusus. Kedua proses tersebut dilakukan secara langsung melalui seluruh permukaan tubuhnya. Dalam hal ini sistem saluran air dan saluran gastrovaskular sangat membantu dalam memperlancar proses respirasi maupun ekskresi.
Gas-gas O2 yang terlarut di dalam air akan masuk secara difusi masuk ke dalam lapisan epidermis maupun gastrodermis tubuh ubur-ubur. Sebaliknya gas-gas CO2 yang dihasilkan dari proses respirasi akan dikeluarkan dari tubuhnya secara difusi. Demikian halnya dengan zat-zat nitrogen sebagai sisa-sisa metabolisme, akan dibuang secara langsung oleh sel-sel epidermis maupun gastrodermis ke lingkungan luar tubuh.

D. Sistem Susunan Saraf
Susunan saraf ubur-ubur lebih kompleks bila dibandingkan dengan susunan saraf Hydra. Adapun susunan saraf ubur-ubur terdiri atas jaringan saraf utama, jaringan saraf difus, delapan ganglia rhopalial.
1. jaringan saraf utama terletak di bagian permukaan sub-umbrella (permukaan tubuh sebelah bawah). Susunan saraf ini berkorelasi dengan system muscular yang berada pada bagian sisi itu. Disamping itu susunan saraf jaringan utama ini juga menjulur masuk ke dalam bagian tangan mulut, manubrium, tentakel, dan rhopalia. Adapun susunan saraf utama ini berfungsi untuk mengkoordinir aktifitas otot selama ubur-ubur melakukan pergerakan. Susunan saraf jaringan utama ini meliputi sel-sel saraf bipolar dan serabut-serabut saraf.
2. Susunan saraf difus berada di kedua belah sisi baik sisi sub-umbrella maupun sisi eks-umbrella. Susunan saraf-saraf ini meliputi badan-badan sel saraf yang kecil-kecil. Adapun fungsi susunan saraf ini terutama berhubungan dengan respon local, misalnya urusan penangkapan mangsa, pengempisan badan payung dan lain-lain. Susunan saraf difus juga berhubungan dengan ganglion rhopalial.
3. Ganglion rhopalial ada 8 buah. Ganglion rhopalial merupakan kumpulan dari neuron. Kedelapan buah ganglion tersebut masing-masingterletak dekat dengan bagian basal dari alat indera marginal yang disebut tentakulokist atau rhopalia.
Di samping itu di seputar pinggiran badan paying yaitu jelasnya diseputar saluran marginal ditemukan susunan saraf cincin yang halus.

E. Alat Indera
Ubur-ubur mempunyai 3 macam alat indera, yaitu tentakulokist atau rhopalia, oselli, dan celah olfaktori.

1. Tentakulokist
Alat ini merupakan indera keseimbangan yang merupakan hasil modifikasi dari suatu tentakel. Alat ini disamping sebagai alat keseimbangan juga berfungsi untuk mengontrol irama gerak mengembang-kempisnya badan paying pada waktu berenang. Dengan alat tersebut dapat menafigasi arah geraknya. Setiap tentakulokist terdiri dari suatu kantong yang disebut statokist yang di dalamnya dilengkapi dengan bentuk pentung dengan ujungnya berbutir kapur fosfat atau sulfat yang disebut statolith.
2. Oselli
Oselli merupakan badan berpigmen yang sensitive terhadap rangsangan cahaya, atau berfungsi untuk membedakan terang danlap. Alat ini terdiri dari dua macam bentuk, yaitu seperti bintik dan bentuk seperti mangkok.
3. Celah Olfaktori
Organ ini merupakan indera pembau yang berfungsi untuk mengenali zat makanan yang bakal dimasukkan ke dalam mulutnya. Dengan demikian ubur-ubur dapat menentukan partikel mana yang perlu diteruskan ke dalam mulutnya dan partikel mana yang harus ditolak.

F. Siklus Hidup
Ubur-ubur ( Aurelia ) bersifat dioceous atau berkelamin terpisah. Artinya ada ubur-ubur jantan dan ada yang betina. Spermatozoaid dari ubur-ubur yang jantan setelah dipancarkan masuk ke dalam air lalu berenang-renang mencari tubuh ubur-ubur betina. Bila telah bertemu lalu masuk kedalam tubuhnya melalui mulut yng selanjutnya sampai ke dalam enteron.
Setelah tiba di dalam enteron ubur-ubur betina, maka sermatozoid tersebut membuahi sel telur yng dihasilkan oleh ovarium. Zigot ynang merupakan hasil peleburan antara spermatozoid dan sel telur selanjutnya akan dikeluarkan dari dalam tubuh yang betina melalui mulutnya. Setelah keuar dari mulut, zigot tersebut akan didukung oleh tangan-tangan mulut, dan ditenpat tesebut akan berkembang menjadi larva yang berambut getar atau disebut planula. Plkanula dengan rambut-rambut getarnya akan mengembara untuk semantara waktu, dan selanjutnya mengikatka diri pada suatu substrat yang berada di dasar laut. Di tempat gtersebut, planula melepaskan rambut-rambut getarnya dan tumbuh menjadi polip baru yng disebut skifistoma ( scyphistoma ). Skifistoma berbentuk seperti terompet, dengan bagian-bagian tubuh sebagai berikut ; cakram basal, batang tumbuh, mulut dan tentekel. Bila skifistoma itu telah mencapai ukuran penuh ( +- 12 mm), maka skifistoma akan membelah-belah secara transversal sehingga terbentuk setumpuk ruas-ruas yng masing-masing berbentuk seperti cakram. Skifistoma yang berubah seoerti ini disebut strobila, sedangkan bentuk cakram sebagai hasil pembelahan secara transversal akan menjadi ubur-ubur muda dinamakan efira ( ephera ).
Selanjutnya, efira yng telah tua, yaitu yang terlatak dibagian ujung strobila akan melepaskan diri dan berenang-renang bebas untuk hidup secara mandiri dan menjadi ubur-ubur atau medusa muda. Berikutnya, setelah tiba saatnya mereka akan manjadi dewasa.
G. Perbedaan Antara Medusa Obelia dengan Medusa Scyphozoa
Secara terperinci dapat dibedakan antara medusa obelia dengan ubur-ubur Aurelia adalah sebagai berikut :
1. Ukuran medusa Obelia kecil ( diameter 6mm- 7mm ), sedangkan ukuran medusa Aurelia (Scypozoa) adalah lebih besar (diameter 7,5 cm – 30 cm).
2. Manubrium medusa Obelia relatif lebih panjang jika dibandingkan manybrium medusa Scypozoa. Bentuk manubrium Obelia quadrangularis ( pipa berlingir empat ), sedangkan bentuk menubrium medusa Scypozoa silindris.
3. Mulut medusa Obelia yidak dilengkapi dengan lengan mulut, sedangkan mulut medusa Scyphozoa dilengkapi dengan lengan mulut. Bentuk mulut medusa Scyphozoa bulat atau oval yang bergelambir empat.
4. Medusa Obelia mempunya velum, sedangkan medusa Scypozoa tidak. ( Velum adalah lipatan pinggiran badan payung medusa yang menjorok kedalam sehingga membentuk seperti selaput ).
5. Berdasarkan ada tidaknya velum, maka medusa Obelia tergolong pada krespedota, sedangkan medusa Scypozoa tergolong pada akraspedota.
6. Gonad medusa Obelia terletak dibagian saluran radial dan menggantung ke bawah, sedangkan gonad medusa Scypozoa terletak di bagian lantai kantong gastrik dan posisinya tidak menggantung ke luar.
7. Medusa Obelia tidak mempunyai oselli dan celah olfaktori seperti halnya Scypozoa
8. Tentakel medusa Obelia pejal, sedangkan tentakel ubur-ubur Scypozoa berongga
9. Mesoglea medusa Obelia bersifat non-selular, sedangkan pada medusa Scypozoa mesogleanya mengandung sel-amoeboid.

H. Contoh-contoh Anggota Scypozoa Lainnya
1. Lucernaria,
Medusa Lucernaria berbentuk konikal, dan badan payungnya terbagi manjadi 8 lobi, yang masing-masing lobus dilengkapi dengan tentakel-tentakel yang adhesif ( punya kemampuan merekatkan ). Keistimewaan dari anggota Scypozoa yang satu ini ialah: medusanya lebih berbentuk polip dibandingkan ubur-ubur.sebab permukaan atas badan payungnya dapat dijulurka atau ditarik ke luar sdemikian rupa shingga berbentuk sebagai suatu tangkai silindris. Dengan tangkai tersebut hewan tersebut meletakkan diri pada suatu substrat lebih kuat dan menjadi bersifat sesil.
2. Pelagia
Medusa pelagia berbentuk seperti payung terjun dan badan payungnya berlobi-lobi sekitar 15 lobus. Tentakel-tentakel marginalnya panjang-panjang yang diselang-selingi oleh tentakulosit. Keistimewaan dari anggota Scypozoa yang satu ini ialah planulanya secara langsung bermetmorfosis menjadi efira atau medusa muda.
3. Rhizostoma
Medusa Rhizostoma berbentuk seperti jamur merang dan badan payungnya tidak dilengkapi oleh tentakel-tentakel marginal. Lengan-lengan mulutnya berjumlah 8 buah dab bercabang-cabang sedemikian rupa hingga menyerupai rhizoid ( akar ) pada jamur merang. Keistimewaan anggota Scyphozoa yang satu ini adalah bahwa mulutnya diganti oleh corong-corong penghisap kecil-kecil yang menempel pada tangan-tanganya.

I. Klasifikasi Scyphozoa
Kelas Scyphozoa meliputi 200 spesies dan semuanya hidup di laut. Keistimewaan dari kelas ini ialah bahwa fase polipnya telah mebgalami redumenter, bila masih ada hanya merupakan ukuran yang kecil. Berhubungan dengan kondisi tersebut maka dapat dikatakan bahwa kelas Scyphozoa tidak begitu tampak menunjukkan gejala metagenesis.
Dari ke 200 spesies tersebut dapat dikelompokkan menjadi 5 ordo, yaitu:
1. Ordo Stauromedusae ( Lucernarida )
2. Ordo Cubomedusa ( Charibdeuda )
3. Ordo Coronatae
4. Ordo Semaeostomae
5. Ordo Rhizostome


2.2.3 Kelas Anthozoa
A. Ciri-Ciri Umum
Penamaan kelas Anthozoa berasal dari bahasa Yunani; anthos + zoon (anthos= bunga; zoon = hewan), yang berarti hewan yang menyerupai bunga. Semua anggota kelas ini hidupnya di laut, dari kawasan pantai hingga kedalaman 6000 meter,terutama di perairan yang hangat, tetapi ada juga yang di jumpai pada daerah kutub. Mereka merupakan polip yang meletakkan diri pada suatu obyek yang terdapat di dasar laut. Anggota dari kelas Anthozoa fase medusanya telah terreduksi, sehingga hanya memiliki fase polip saja.
Perbedaan antara polip pada Anthozoa dan Hydrozoa dapat diperinci sebagai berikut:
1. Mulut pada polip Hydrozoa langsung berhubungan dengan rongga enteron, sedangkan mulut pada polip Anthozoa tidak langsung berhubungan dengan ronggaenteron melainkan berhubungan lebih dahulu berhubungan dengan faring.
2. Pada Hydrozoa dinding rongga enteronnya tidak mengadakan pelipatan (septum), sedangkan pada Anthozoa dindingnya mengadakan pelipatan secara konsentris yang disebut septa.
3. Pada polip Hydrozoa mesogleanya bersifat non- selular, sedangkan pada Anthozoa bersifat selular.
4. Pada polip Hydrozoa gonad berasal dari lapisan epidermal , sedangkan pada polip Anthozoa berasal dari lapisan gastrodermal.
Secara umum aspek-aspek struktur dan fisiologi dari Anthozoa tidak berbeda dengan Coelenterata yang lain. Oleh karena itu bahasan tentang aspek-aspek tersebut secara ringkas akan dibahas pada masing-masing contoh dari Anthozoa.
B. Klasifikasi Anthozoa
Di antara keluarga coelenterata anhozoa merupakan yang paling banyak anggotanya, meliputi 6000 spesies, yang terbagi menjadi dua sub kelas yang masing-masing terdiri dari 6 buah ordo. Bila dilihat dari kerangkanya, maka kelas Anthozoa tewrbagi menjadi 2 sub kelas, yaitu:
1. Sub kelas I : Octocoralia (Alcyonaria)
2. Sub kelas II : Hexacorallia (Zoantharia)
Adapun perbedaan antara kedua sub kelas tersebut dideskripsikan dalam Tabel 2.1
Di antara anggota Anthozoa yang paling terkenal adalah Anemon laut, karang batu atau karang kapur dan karang tanduk.

C. Anemon Laut

Gambar 2.9 Contoh Anemon Laut
http://www.anthozoa.com/Photos/Welcome/Anemon.jpg&imgrefurl

Anemon laut merupakan anggota Anthozoa yang paling indah, baik dalam penampilan bentuknya maupun dari segi warna-warninya. Tentakel-tentakelnya teratur sedemikian rupa mengelilingi celah mulutnya seperti daun mahkota bunga krisan. Anemon laut merupakan polip yang hidup soliter dengan warna yang beraneka ragam. Bagian pangkal tubuhnya terbenam di pasir, lumpur menempel pada batu karang bahkan ada yang menempel oada cangkang gastropoda yang di tempati umang-umang atau keong. Merka menempel dengan diskus kaki (pedal disc). Walaupun mereka hidupnya menempel pada obyek, tetapi ada juga yang bisa melakukan sedikit gerakan dan bahkan berenang. Bila mereka terganggu tentakel-tentakelnya ditariknya masuk kedalam celah mulutnya dan tubuhnya dikerutkan. Akibatnya yang semula bentuknya memanjang menjadi seperti karung goni yang kehilangan isi. Contoh dari kelompok ini adalah Metridium.

Gambar 2.10 Struktur Tubuh Anemon Laut
http://www.anthozoa.com/Photos/Welcome/Anthozoans.jpg&imgrefurl















Tabel 2.1 Deskripsi yang Menunjukkan Perbedaan Ciri dari Octocoralia dan Hexacoralia
Octocorallia Hexacorallia
1. Biasanya polip berukuran kecil, hidup secara berkoloni
2. Koloninya terjadi dari kumpulan polip yang strukturnya homogen
3. Polipnya selalu dihiasi oleh 8 tentakel atau kelipatannya
4. Tubuhnya simetri 8 (oktomeri)
5. Anggota kelompoknya sering menunjukkan gejala dimorfisme
6. Ditemukan sifonoglifa tunggal atau tidak sama sekali
7. Ditemukan 8 buah mesentris komplit tetapi tunggal
8. Otot retraktornya selalu berada disi ventral dari semua simetri
9. Kerangka tubuhnya adalah endoskeleton, terbuat dari keping kapur yang lepas atau dari bahan kersik
10. Polipnya tidak secara langsung membentuk polip tetapi melalui stolon. 1. Biasanya polipnya berukuran besar, hidup secara berkoloni ataupun secara soliter
2. Koloninya tersusun dari kumpulan polip-polip yang berstruktur heterogen
3. Polipnya selalu dihiasi oleh 6 tentakel atau kelipatannya, yang jarang bercabang
4. Tubuhnya simetri 6 (heksametri)
5. Tidak menunjukkan gejala dimorfisme
6. Ditemukan sifonoglifa dua, satu atau tidak sama sekali.
7. Ditemukan 6 buah mesentris baik komplit maupun tidak
8. Otot retraktornya longitudinal pada setiap mesentris dan berhadapan satu dengan yang lain
9. Kerangka tubuhnya adalah eksoskeleton, terbuat dari keping kapur, zat tanduk dan tidak perrnah dari bahan spikula
10. Polipnya secara langsung membentuk polip dengan cara membelah atau membentuk kuncup.




Metridium (Anemon laut)
Sebagai wakil dari dari kelas Anthozoa, berikut ini akan diuraikan secara mendetail salah satu anggota kelompok anemon laut, yaitu tentang kehidupan Metridium.

a. Kedudukan Taksonomi
Posisi atau kedudukan Metridium dalam jenjang sistematika adalah sebagai berikut:
Filum : Coelenterata
Kelas : Anthozoa (Actinozoa)
Sub Kelas : Hexacorallia (Zoantharia)
Ordo : Actinaria
Familia : Sagartiidae
Genus : Metridium
Spesies : Metridium marginatum
(Sugeng P, 1982)

b. Habitatnya
Seperti hjalnya Anemon laut lainnya, Metridium juga hidup di laut, mulai daerah pantai hingga di kedalaman 99 m, terutama di daerah laut yang airnya hangat dan jernih. Metridium merupakan hewaqn yang menetap di suatu tempat dengan melekatkan diri pada suatu obyek yang berada di dalam laut, misalnya batu karang, tumbuhan laut, bekas cangkang Gastropoda, bahkan ada yang menguburkan diri hingga separoh dari tubuhnya di pasur atau lumpur (Nugroho, 2009).

c. Bentuk, Warna dan Bagian-Bagian Tubuhnya
Tubuh Metridium berbentuk silindris dengan bagian oral agak melebar seperti corong yang dihiasi dengan rangkaian tentakel-tentakel yang membentuk seperti mahkota bunga. Panjang tubuhnya sekitar 5-7 cm, tetapi ada juga yang berukuran raksasa hingga mencapai 1 m. Tubuhnya radial simetris dengan warna yang bervariasi, tetapi biasanya warnanya kecokelatan atau kekuningan.
Tubuhnya terbagi menjadi 3 bagian utama, yaitu; basgian diskul pedal atau bagian kaki, bagian kolumna atau skapus atau bagian batang tubuh, dan bagian diskus oral atau kapitulus. Antara bagian diskus pedal dengan bagian dihubungkan oleh apa yang disebut limbus, sedangkan antara bagian skapus dengan bagian diskus oral di hubungkan oleh apa yang di sebut kollar atau parapet (Roenedi, 2009).
Sistem gastrovaskular dimulai dengan mulut, mulut dihubungkan dengan coelenteron oleh suatu saluran yang berbentuk seperti tabung yang di sebut stomodeum atau gullet. Saluran stomodeum tersebut di sepanjang sisinya dilengkapi alur cincin yang bersilia disebut sifonoglifa (siphonoglyph). Alur ini merupakan jalan masuknya aliran air ke dalam septa atau mesentris sehingga terbentuklah 6 buah kompartemen (ruang), yang berposisi radial. Air dapat mengalir dari kompartemen ke lainnya melalui celah yang disebut ostia. Ke 6 buah septa tersebut dinamakan septa primer. Ada lagi septa sekunder yang merupakan septa kecil yang menonjol dari dinding tubuh ke dalam rongga (liang) enteron. Septa ini tidak sampai mencapai stomodeum. Di antara septa primer dengan septa sekunder. Masih ditemukan septa lagi yang di sebut septa tersier. Bagian tepi bebas dari septa dalam coelonteron di bagian bawah stomodeum berkembang menjadi bentuk yang tebal yang disebut filament digestial, yang di dalamnya mengandung sel-sel kelenjar penghasil getah pencerna yang mengandung enzim. Dekat bagian dasar dari filament digesti ditemukan benang-benang akonsia. Yang di dalamnya dilengkapi dengan sel-sel kelenjar dan nematokist. Salah satu fungsi dari akonsia adalah untuk mengusir musuh dengan cara akonsia tersebut dijulurkan lebih dahulu melalui pori-pori yang ada pada dinding tubuh hewan yang bersangkutan (Kastawi, 2005).

d. Makanan dan Pencernaannya
Metridium, seperti halnya anemon laut lainnya bersifat karnivora. Makanannya berupa hewan invertebrata kecil-kecil lainnya, dan juga ika-ikan kecil. Untuk jenis ikan tertentu tidak di mangsa bahkan malah bersimbiosis, jenis ikan tersebut masuk dalam genus Amphiprion. Mangsa terlebih dahulu dilumpuhkan dengan racun yang di hasilkan oleh nemakosit, baru kemudian ditarik ke dalam mulutnya menggunakan tentakel-tentakelnya. Makanan kemudian ditelan melalui stomodeum, dan akhirnya sampai pada rongga gastrovaskuler. Di dalam rongga makanan tersebut dicernakan aleh enzim yang terkandung di dalam getah pencernaan (Roenedi, 2009).
Selanjutnya, sari-sari makanan akan diserap oleh dinding gastrodermis, sedangkan bagian atau partikel yang tak tercernakan akan dimuntahkan kembali melalui mulutmya. Proses pencernaan berlangsung baik secara interselular maupun ekstraselular. Getah pencernaan dihasilkan oleh sel-sel kelenjar yang ditemukan di bagian filament disgetif, maupun di dalam akonsia. Getah pencerna yang mengandung enzim proteolitik sanggup mencernakan zat makanan yang berupa protein dan juga zat lemak maupun karbohidrat (Kastawi, 2005)..

e. Respirasi dan Ekskresi
Metridium, tidak mempunyai alat khusus untuk pernafasan maupun pembuangan hasil ekskresi. Dalam hal pernafasan baik pengambilan yang terlarut di dalam air laut, maupun pengeluaran gas karbondioksida berlangsung secara difusi osmosis secara langsung melalui semua permukaan tubuhnya. Yang dimaksud permukaan adalah permukaan epidermis maupun permukaan gastrodermis. Dalam hal ini, aliran air yang timbul di dalam saluran gastrovaskuler disebabkan oleh gerak sapu dari rambut-rambut getar yang berjajar di bagian dinding stomodeum maupun dinding gastrovaskular. Gerakan rambut getar pada kedua macam dinding menyebabkan air keluar dan masuk. Kedua mekanisme ini sangat membntu dalam hal pertukaran gas maupun sisa-sisa metabolisme lainnya (Kastawi, 2005).

f. Sistem Reproduksi
Metridium, berkembangbiak secara aseksual maupun secara seksual. Perkembangbiakan secara aseksual dilakukan dengan pembentukan kuncup maupun secara fragmentasi. Fragmentasi dilakukan dengan cara memutuskan tubuhnya dibagian diskus pedal. Bagian yang membawa diskus pedal akan membentuk bagian diskus oral baru, dan yang membawa diskus pedal akan membentuk bagian diskus pedal baru. Tetapi fragmentasi tersebut bisa terjadi dengan arah membujur, yang biasa dikenal dengan istilah pembelahan biner. Perkembangbiakan secara aseksual dengan cara pembentukan kuncup bermula dengan timbulnya semacam tonjolan pada kolumna atau skapus.Tonjolan terus berkembang hingga terbentuk Metridium baru.Bila sudah saatnya anakan tersebut akan melepaskan diri dari tubuh induknya dan hidup secara mandiri (Kastawi, 2005).
Pada perkembangbiakan secara seksual Metridium, ada jenis yang bersifat hermaprodit ada yang berkelamin terpisah. Pada jenis yang hermaprodit, perkembangan antara sel telur dengan spermatozoid tidak bersamaan masaknya. Dengan demikian perkawinan sel telur dengan spermatozoid terjadi secara perkawinan silang. Baik ovum maupun spermatozoid yang telah masak akan akan dikeluarkan melalui mulutnya dan perkawinannya berlangsung di alam bebas.dari hasil fertilisasi terbentuk zigot yang akan berkembang menjadi coeloblastula. Coeloblastula tersebut selanjutnya dengan proses gastrulasi akhirnya membentuk larva yang berambut getar atau planula. Denga rambut getar tersebut planula akan bebas berenang-renang untuk mencari tempat hidup baru. Bila sudah menemukan tempat yang sesuai, maka planula akan melekatkan diri pada suatu obyek dan tumbuh menjadi polip Metridium baru(Anonim b, 2009).

g. Sistem Muskular (Perototan)
Anemon laut akan memperlihatkan berbagai bentuk gerak yang bervariasi. Hal ini berarti pada anemon laut telah ditemukan susunan muskul.ar yang telah mengalami perkembangan lebih sempurna bila dibandingkan dengan anggota kelas sebelumnya. Susunan muskular ini ditemukan baik di bagian epidermis maupun gastrodermis. Muskular yang ditemukan pada epidermis adalah hanya terbatas pada serabut-serabut memanjang atau longitudinal dan serabut radial. Serabut longitudinal ditemui pada tentakel, sedangkan serabut radial ditemukan pada sebuah ditemukan pada bagian diskus oral. Muskular pada gastrodermis terdiri dari serabut-serabut sirkular. Serabut sirkular ini dijumpai pada bagian tentakel, diskus oral, skapus dan diskus pedal. Di bagian dinding kollar, serabut sirkular ini menebal membentuk sphincter, dan berfungsi untuk menutup rongga coelenteron yang ada di bagian skapus bila anemon sedang memendekkan tubuhnya.
Susunan muskular yang lain adalah otot retraktor.Otot retraktor ini adalah otot longitudinal yang membujur dan menempel pada salah satu permukaan mesentris pada bagian tepi sisi dalam. Otot ini bila berkerut akan menyebabkan memendeknya mesenteris, tentakel maupun diskus oral. Selain itu ada juga otot basilar yang membentang secara melintang dibagian permukaan bawah luar dari mesentris. Otot ini bila berkerut akan mendekatkan bagian skapus dengan bagian diskus pedal (Kastawi, 2005)..
h. Sistem Syaraf
Susunan syaraf pada anemon laut sangat sederhana, dan pada dasarnya serupa dengan susunan syaraf pada Coelenterata lainnya. Susunan syarafnya bersistem difus dan belum tampak adanya susunan syaraf pusat. Sistem syaraf tersebut terdiri atas pleksus epidermal dan pleksus gastrodermal, yang masing-masing tersusun atas serabut syaraf dan ganglion yang besar. Pleksus tersebut makin insentif terutama di bagian tentakel, diskus oral maupun stomodeum. Tentang alat indra pada anemon laut ini belum ditemukan yang spesifik.

i. Contoh lain dari anemon laut: Adamsia palliata
Anemon laut yang satu ini hidup bersama secara komensalis dengan umang-umang atau hemit crab, yaitu jenis udang-udangan yang biasanya menempati bekas cangkang gastropoda. Anemon laut ini memiliki 6 pasang mesentris, dua siphonoglifa dan sejumlah besar tentakel. Bagian diskus pedalnya telah mengalami modifikasi sedemikian rupa sehingga bentuknya di adaptasikan untuk menempelkan diri pada cangkang bekas gastropoda. Bagian diskus pedal tersebut beerupa 2 buah lobi (lobi majemuk, lobus tunggal)penghisap. Spincter dan akonsianyaberkembang sempurna. Adamsia tidak mempunyai kerangka tubuh. Adamsia tanpa umang-umang tidak akan dapat hidup, tetapi sebaliknya tidak begitu halnya dengan umang-umang. Dalam hidup bersama ini umang-umang dilindungi oleh Adamsia dari serangan musuhnya atau ikan. Bila ada ikan yang akan melahap umang-umang akan terkena serangan panah beracun yang berasal dari nemakosit dan akonsia Adamsia yang dapat menyebabkan lumpuh, kejang, atau pingsan bagi ikan yang menyeranganya. Sebaliknya dalam hal ini adamsia memperoleh keuntungan dalam hal transportasi dari umang-umang. Dengan senantiasa menumpang di “punggung” umang-umang maka Adamsia akan mendapatkan lingkungan hidup yang baru. Lingkungan hidup baru itu akan berarti membawakan makanan atau kondisi baru baginya.

D. Hewan Karang atau Hewan Pembentuk koral/Batu Kapur
Anggota Anthozoa dari kelompok ini sebetulnya tubuhnya hamoir sama dengan anemon laut,perbedaannya ada pada kerangka tubuhnya. Kerangka tubuhnya disebut eksoskeleton terbuat dari bahan kapur (CaCO3). Zat kapur tersebut disekresikan oleh lapisan epidermis. Kerangka itu mula-mula dibentuk pada pangkal tubuh polipnya, yaitu bagian yang melekat pada substratnya. Bila hewannya telah mati kelak hanya tinggal kerangkanya. Kerangka tersebut biasanya secara bersama-sama membentuk apa yang disebut pulau karang atau gosong atau terumbu (reef).
Pada umumnya koral batu hidupnya secara berkoloni , berkembang biak secara aseksual, yaitu dengan kuncup. Kuncup tersebut akan tumbuh menjadi hewan baru,yang masing-masing juga mensekresikan zat kapur sebagai kerangka tubuhnya, sehingga nantinya koloni tersebut kerangkanya juga bercabang-cabang sesuai dengan jumlah kuncupnya, sehingga makin menyemarakkan percabangan dari koloninya. Bentuk koloni yang bercabang-cabang misalnya pada Acropora. Ada juga bentuk koloni yang bulat berlekuk-lekuk, misalnya pada Stylophora Mordax. Selain itu juga ada jenis koloni berbentuk seperti otak misalnya pada Leptoria tenuis (Roenedi, 2009).
Tentang warna koloni hewan karang sangat beraneka ragam, ada yang merah, biru, putih, atau kuning. Kerangka dari jenis koral ini biasanya dipakai untuk pajangan pada waktu pembuatan aquarium.. koral batu atau koral kapur ini paa umumnya termasuk di dalam ordo Madreporaria sub kelas Hexacoralia.
Untuk hidupnya, hewan karang memerlukan syarat lingkungan yang memadai. Persyaratan tersebut antara lain: 1)temperatur air laut sekitar 20⁰C, 2) kedalaman laut sampai 35 m, 3) kawasan laut sampai 28⁰ lintang utara maupun selatan,.4) perairan laut yang banyak mengandung oksigen, 5)fluktuasi temperatur tidak melebihi 6⁰c, 6) perairan laut yang jernih dan bersalinitas tertentu.
Terumbu karang ada bermacam-macam tipe, yaitu: 1) fringing reef atau terumbu karang tepi, 2) barrief reef atau terumbu karang penghalang, dan 3)sirkular reef atau terumbu karang atol.
Menurut darwin terbentuknya ketiga jenis terumbu karang tersebut adalah bertahap dan bersuksesi., berturut-turut dari karang pantai – karang rintangan – karang atol. Terumbu karang tepi adalah hamparan terumbu karang yang membentang dari sejak pantai hingga ¼ mil ke arah laut. Antara hamparan karang dengan pantai merupakan kontinum. Terumbu karang penghalang adalah hamparan batu karang yang membentang di seberang pantai yang agak jauh dari daratan. Terumbu karang atol adalah terumbu karang yang berposisi melingkar seperti cincin, yang di tengah-tengah ditemukan anak laut yang berbentuk seperti danau bundar yang disebut laguna (Nugroho, 2009).
Adapun suksesi terjadinya karang rintangan sampai karang atol menurut Darwin dalam Paranto (1982) adalah sbb:
- Mula-mula terbentuklah karang pantai yang berposisi miring. Oleh karena adanya gerak dari kulit bumi yang menyebabkan pantainya menjadi tenggelam, sehingga mengakibatkan terpisahnya hubungan antara karang pantai dengan pantai yang ditempelinya. Karena kondisi tersebut maka terbentuklah laut pemisah atau semacam selat yang memisahkan antara hamparan karang dengan pantai, sedangkan sekarang disebut karang rintangan atau barrier reef.
- Bila sekiranya gerak kulit bumi itu semakin melanjut dalam arti daratan yang berpantai miring itu sama sekali tenggelam, maka tinggallah hamparan karang-karang yang mengelilinginya yang masih tampak dan bentuknya menyerupai jajaran yang membentuk bentukan sepertu cincin. Untaian pulau-pulau karang semacam itu disebut atoll, dan laut yang dikelilinginya disebut laguna.
Ada bentuk karang rintangan yang tidak melanjut menjadi atol melainkan tetap menjadi karang rintangan yang besar, yaitu yang terletak membentang di sebelah timur laut benua Australia yang disebut “Great Barrier Reef”. Bentangan karang yang masih berada di bawah permukaan laut merupakan problem bagi lalu lintas kapal. Di sisi lain justru bermanfaat bagi wisata laut, karena kehidupan koral pada khususnya dan Anthozoa pada umumnya yang disemarakkan oleh penghuni laut lainnya mereka membentuk taman laut yanng indah. Terumbu karang ini juga merupakan ekosistem yang sangat baik untuk tempat pemijahan berbagai jenis ikan dan hewan laut lainnya(Kastawi, 2005).
.
E. Contoh Anggota Anthozoa lainnya

1. Koral Tanduk
Yang termasuk dalam koral tanduk misalnya kipas laut, cambuk laut, bulu laut, akar bahar dan lain-lain. Kelompok ini memiliki kerangka yang terbuat dari bahan zat tanduk atau kreatin. Pada umumnya hewan karang tanduk ini sifat kerangkanya termasuk endoskeleton. Kerangka tubuh tersebut ada yang berwarna hitam, pink, jingga, dan lain-lain (Kastawi, 2005).
2. Tubiphora musica (karang suling)
Karang jenis ini bentuk polipnya menyerupai pipa dan berwarna hijau, kerangkanya terbuat dari zat kapur dan berwarna merah. Hidupnya secara berkoloni, antara polip satu dengan yang lain diikat oleh jaringan tubuh yang disebut stolon transversal. Susunan pipa-pipa polip yang menyusun koloni tersebut berjajar-jajar secara vertikel. Kerangka tubuhnya termasuk jenis kerangka endoskeleton yang di bagian luarnya dibungkus oleh lapisan epidermis (Kastawi, 2005).

3. Corallium rubrum atau Corallium nobile (karang merjan)
Hewan karang merjan ini hidup di bagian dasar laut dengan menempelkan diri pada batu-batu karang. Koloninya mengadakan percabangan, yang percabangannya dapat mencapai tinggi 30 cm. Bagian luar dari koloni tersebut dijumpai jaringan tubuh yang disebut koenenkhim. Coenenchyme ini sebetulnya merupakan seonggok mesoglea yang tebal dan padanya ditembusi oleh saluran gastrodermal yang berbentuk seperti tabung atau pembuluh. Pembuluh tersebut merupakan percabangan dari rongga coelenteron. Pada koenenkhim tersebut ditemukan sel-sel amoebosit yang mensekresi suatu material.material tersebut merupakan penyusun dari kerangka tubuhnya. Polip-polip hewan ini tumbuh menempel pada bagian coenenchyme. Polip-polipnya berwarna putih sedangkan kerangka tubuhnya yang terbuat dari bahan kapur, berwana merah darah. Kerangka tubuh Corallium termasuk kerangka dalam atau endoskeleton. Kerangka-kerangka koral ini biasa dibuat untaian untuk perhiasan tubuh seperti gelang, kalung, tasbih dan lain-lain (Kastawi, 2005).

4. Euplexaura antiphathes (akar bahar)
Hewan karang ini tubuhnya berkoloni, kerangka tubuhnya terbuat dari bahan tanduk berwarna hitam. Oleh sementara orang sering digunakan untuk perhiasan tubuh (gelang, baik gelkang kaki maupun gelang tangan). Anggapan sementara orang akar bahar ini dapat dipergunakan untuk penangkal-penangkal penyakit reumatik (perlu diteliti kebenarannya). Koloni koral ini biasanya melekat pada dasar laut pada batu-batu karang dengan bagian diskus-pedalnya yang berwarna muda (Kastawi, 2005).

5. Gorgonia flagellum
Hewan ini biasa juga disebut dengan istilah cambuk laut, atau kipas laut. Hidupnya secara berkoloni, koloninya berbentuk sseperti pohon yang bercabang-cbang, warnanya kemerah-merahan atau kekuning-kuningan, dan ukurannya dapat mencapai tinggi 80 cm. Bersama dengan hewan-hewan karang yang lainnya, gorgonia ini makain menyemarakan asrinya taman laut. Kerangjka tubuhnya terbuat dari zat tanduk dan merupakan kerangka dalam (endeskeleton) (Kastawi, 2005).

6. Pennatula (bulu laut atau kalam laut)
Hewan ini hidupnya berkoloni dan koloninya berbentuk seperti bulu ayam. Atas dasar tersebut. Pennatulla disebut bulu laut. Bagian basal koloninya yang disebut pedunkel, sebagian terkubur di pasir atau limpur yang ada di dasar laut, sedangkan bagian lainnya yang merupakan sumbu dari koloninya disebut rakhis berdiri tegak vertikal. Rakhis tersebut dilengkapi bercabangan yang berjajar-jajar ke kanan dan ke kiri yang berbentuk pipih dan disebut pinulae. Setiap jajaran lateral tersebut terdiri dari 20-50 penulae (Kastawi, 2005).

7. Acropora
Genus acropora merupakan anggota Anthozoa yang merupakan partisipan utama dalam pembentukan terumbu karang. Koloninya berbentuk sepert tanduk rus jantan, maka atas dasar itu koral ini juga biasa disebut dengan istilah koral tanduk rusa. Polip-polipnya tumbuh menggerombol pada bagian coenenchyme-nya. Polip-poip tersebut bentuknya seperti cangkir yang silindris. Antara polip satu dengan yang lain dipisahkan oleh coenosteum. Ada dua bentuk polip, yaitu polip terminal dan polip lateral. Polip terminal bertentakel 6 buah, sedangkan polip lateral bertentakel 12 buah. Mesenterisnya teratur dalam posisi saling berpasang-pasangan secara bilateral. Conenchiyme-nya berbentuk jalinan saluran-saluran yang menghubungkan polip yang satu dengan lainnya (Kastawi, 2005).

8. Meandrina (karang otak)
Hewan ini koloninya merupakan onggokan conenchyme yang bentuknya beralur-alur seperti otak.maka atas dasar itu karang ini disebut dengan istilah karang otak. Koloninya merupakan kumpulan dari berbagai generasi polip yang membentuk kerang dari bahan kapur. Semasa kloninya masih muda, tubuh kloni tersebut masih dapat dipotong dengan pisau, tetapi makin tua koloni tersebut makin keras, karena makin banyak disposisi zat kapur (Kastawi, 2005).

9. Synularia
Hewan ini disebut juga sebagai karang lunak, karena tubuhnya tidak menghasilkan batu kapur. Hewan ini dikelompokkan sebagai anggota Alcyonaria. Tubuh hewan ini hanya disokong oleh rangka dalam yang berupa spikula-spikula. Jadi, kalau hewan ini mati tidak meninggalkan karang melainkan akan hancur. Hewan ini juga merupakan bagian dari jenis yang menyusun terumbu karang (Kastawi, 2005).

2.3 PERANAN COELENTERATA
Manfaat coelenterata secara spefisik sebenarnya belum ada, tetapi keberadaan karang laut yang sangat luas dan indah sehingga dapat dijadikan sebagai tempat hidup dan berkembang biak berbagai jenis hewan laut serta merupakan objek wisata yang sangat indah (Qiptia, 2009).
Keanekaragaman organisme terumbu karang yang paling tingg terdapat di Asia Tenggara, dari Filipina dan Indonesia hinggaq Great Barier Reef di Australia.Dua puluh lima persen ikan yang dikonsumsi manusia juga hidup pada ekosistem ini.Selain itu, terumbu karang sanga indah sehingga dapat di jadikan objek wisata. Karang di pantai sangat bermanfaat sebagai penahan ombak untuk mencengah pengikisan pantai (Nugroho, 2009).
Manfaat lain dari Coelenterata di antaranya adalah :
1. Hewan ubur - ubur yang banyak di perairan Indonesia dapat di manfaatkan untuk di buat tepung ubur - ubur, kemudian di olah menjadi bahan kosmetik / kecantikan.
2. Di Jepang, Selain sebagai bahan kosmetik, ubur - ubur dimanfaatkan sebagai bahan makanan.
3. Karang atol, karang pantai, dan karang penghalang dapat melindungi pantai dari abrasi.
4. Karang merupakan tempat persembunyian dan tempat perkembangbiakan ikan.
5. Beberapa kerangka tubuh Coelenterata dapat membentuk karang pantai.
6. Beberapa kerangka tubuh Coelenterata lainnya dapat juga dimanfaatkan untuk hiasan.
7. Coelenterata terutama dari kelas Anthozoa (yaitu koral dan karang) merupakan komponen utama pembentuk ekosistem terumbu karang.
8. Terumbu karang dapat dijadikan sebagai objek wisata (Anonoim a, 2009).
















BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Coelenterata mempunyai rongga besar di tengah-tengah tubuhnya yang berfungsi seperti Usus pada hewan-hewan tingkat tinggi. Rongga itu disebut rongga Gastrovaskuler. Simetri tubuhnya Radial dan terdapat Tentakel disekitar mulutnya yang berfungsi untuk menangkap dan memasukkan makanan ke dalam tubuhnya. Tentakel vang dilengkapi sel Knidoblas yang mengandung racun sengat disebut Nematokis (ciri khas dari hewan berongga).
2. Secara garis besar, Coelenterata dikelomokkan ke dalam tiga kelas, yaitu kelas Hydrozoa diwakili contohnya oleh Hydra (hidup di air tawar) dan Obelia ( hidup di laut), kelas Scyphozoa yang diwakili contohnyan oleh ubur-ubur (Aurelia), dan kelas Anthozoa yang diwakili contohnya oleh anemon laut dan hewan karang.
3. Manfaat coelenterata secara spefisik sebenarnya belum ada, tetapi keberadaan karang laut yang sangat luas dan indah sehingga dapat dijadikan sebagai tempat hidup dan berkembang biak berbagai jenis hewan laut serta merupakan objek wisata yang sangat indah dan masih banyak lagi manfaat Coelenterata bagi kehidupan.

3.2 Saran
1. Coelenterata sangat berguna bagi manusia dan makhluk hidup lainnya, terutama hewan-hewan yang hidup di air. Oleh karena itu, kita jangan lah merusak apalagi hanya untuk memperkaya diri sendiri..
2. Disarankan bagi kita semua turut menjaga kelestarian karang laut kita, karena banyak manfaat yang kita dapatkan, terutama dijadikannya sebagai aspek wisata.


DAFTAR PUSTAKA

Anonim a. 2005. Manfaat Filum Coelenterata . (Online), https://login.yahoo.com/?.done=http%3A%2F%2Fid.answers.yahoo.com&.src=knowsrch&.intl=id , diakses 10 Maret 2010.

Anonim b. 2009. Coelenterata. (Online), http://id.wikipedia.org/wiki/Coelenterata,
diakses 10 Maret 2010.

Go. 2009. Filum coelenterata. (Online), http://id.answers.yahoo.com/dir/?link=list&sid=396545209,
diakses 10 Maret 2010.

Kastawi, Yusuf, dkk. 2005. Zoologi Avertebrata. UM Press: Malang.

Ronedi. 2009. Protozoa Protista Mirip Hewan .(Online), http://fromsesat2all.blogspot.com/2009/01/coelenterata-cnidaria-1.html, diakses 10 Maret 2010.

Nugroho. 2009. Peran Coelenterata (Online), http://blog.unila.ac.id/nugroho ,
diakses 10 Maret 2010.

Qiptia. 2009.Coelenterata. (Online),
http://blog.ugm.ac.id/qiptia, diakses 10 Maret 2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share It