Sabtu, 26 November 2011

URINALISIS


A.  JUDUL
Urinalisis

B.  TEMPAT DAN TANGGAL PRAKTIKUM
Tempat                   : Gedung Biologi – Anatomi Fisiologi Manusia
Hari, Tanggal          : Senin, 14 Nopember  2011

C.  TUJUAN
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui kandungan zat dalam urine.

D.  DASAR TEORI
Sistem urinaria terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemih, uretra. Sistem ini membantu mempertahankan homeostasis dengan menghasilkan urine yang merupakan hasil sisa metabolisme (Soewolo, 2003). Ginjal yang mempertahankan susunan kimia cairan tubuh melalui beberapa proses, yaitu:
1)   Filtrasi Glomerular, yaitu   filtrasi plasma darah oleh Glomerulus
2)   Reabsorpsi tubular, melakukan reabsorpsi (absorpsi kembali) secara selektif zat –zat seperti garam, air, gula sederhana, asam amino dari tubulus ginjal ke kapiler peritubular.
3)   Sekresi peritubular, sekresi zat – zat dari kapiler darah ke dalam lumen tubulus, proses sekresi ini mengikutsertakan penahanan kalium, asam urat, amino organic dan ion hydrogen, yang berfungsi untuk memperbaiki komponen buffer darah dan mengeluarkan zat – zat yang mungkin merugikan.
Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urine pasien untuk tujuan diagnosis infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum.
Urine yang normal memiliki cirri-ciri antara lain: warnanya kuning atau kuing gading, transparan, pH berkisar dari 4,6-8,0 atau rata-rata 6, berat jenis 1,001-1,035, bila agak lama berbau seperti amoniak (Basoeki, 2000).
     Unsur-nsur normal dalam urine misalnya adanya urea yang lebih dari 25-30 gram dalam urine. Urea ini merupakan hasil akhir dari metabolisme protein pada mamalia. Ekskresi urea meningkat bila katabolisme protein meningkat, seperti pada demam, diabetes, atau aktifitas korteks adrenal yang berlebihan. Jika terdapat penurunan produksi urea misalnya pada stadium akhir penyakit hati yang fatal atau pada asidosis karena sebagian dari nitrogen yang diubah menjadi urea dibelokkan ke pembentukan amoniak (Soewolo, 2003).
Reaksi urine biasanya asam dengan pH kurang dari 6 (berkisar 4,7-8). Bila masukan protein tinggi, urine menjadi asam sebab fosfat dan sulfat berlebihan dari hasil katabolisme protein. Keasaman meningkat pada asidosis dan demam. Urine menjadi alkali karena perubahan urea menjadi ammonia dan kehilangan CO2 di udara. Urine menjadi alkali pada alkalosis seperti setelah banyak muntah. Pigmen utama pada urine adalah urokrom, sedikit urobilin dan hematofopirin (Soewolo, 2003).
Dalam keadaan normal, manusia memiliki 2 ginjal. Setiap ginjal memiliki sebuah ureter, yang mengalirkan air kemih dari pelvis renalis (bagian ginjal yang merupakan pusat pengumpulan air kemih) ke dalam kandung kemih. Dari kandung kemih, air kemih mengalir melalui uretra, meninggalkan tubuh melalui penis (pria) dan vulva (wanita) (Medicastore).
Dalam http://medicastore.com ini juga di paparkan bahwa darah yang masuk ke dalam glomerulus memiliki tekanan yang tinggi. sebagian besar bagian darah yang berupa cairan disaring melalui lubang-lubang kecil pada dinding pembuluh darah di dalam glomerulus dan pada lapisan dalam kapsula bowman; sehingga yang tersisa hanya sel-sel darah dan molekul-molekul yang besar (misalnya saja beruupa protein).
Cairan yang telah disaring (filtrat) masuk ke dalam rongga bowman dan mengalir ke dalam tubulus kontortus proksimal (tabung/saluran di bagian hulu yang berasal dari kapsula bowman); natrium, air, glukosa dan bahan lainnya yang ikut tersaring diserap kembali dan dikembalikan ke darah.
Dalam mempertahankan homeostasis tubuh peranan urine sangat penting, karena sebagian pembuangan cairan oleh tubuh adalah melalui sekresi urine. Selain urine juga terdapat mekanisme berkeringat dan juga rasa haus yang kesemuanya bekerja sama dalam mempertahankan homeostasis ini. Fungsi utama urine adalah untuk membuang zat sisa seperti racun atau obat-obatan dari dalam tubuh.Anggapan umum menganggap urine sebagai zat yang “kotor”. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan urine tersebut berasal dari ginjal atau saluran kencing yang terinfeksi, sehingga urinenyapun akan mengandung bakteri. Namun jika urine berasal dari ginjal dan saluran kencing yang sehat, secara medis urine sebenarnya cukup steril dan hampir tidak berbau ketika keluar dari tubuh. Hanya saja, beberapa saat setelah meninggalkan tubuh, bakteri akan mengkontaminasi urine dan mengubah zat-zat di dalam urine dan menghasilkan bau yang khas, terutama bau amonia yang dihasilkan dari urea.
Dalam Basoeki (2000) disebutkan bahwa pada proses urinalisis terdapat banyak cara metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi zat-zat apa saja yang terkandung di dalam urine. Analisis urine dapat berupa analisis fisik, analisi kimiawi dan anlisis secara mikroskopik.
Analisis urine secara fisik meliputi pengamatan warna urine, berat jenis cairan urine dan pH serta suhu urine itu sendiri. Sedangkan analisis kimiawi dapat meliputi analisis glukosa, analisis protein dan analisis pigmen empedu. Untuk analisis kandungan proteinm ada banyak sekali metode yang ditawarkan , mulai dari metode uji millon sampai kuprisulfa dan sodium basa. Yang terakhir adalah analisis secara mikroskopik, sampel urine secara langsung diamati dibawah mikroskop sehingga akan diketahui zat-zat apa saja yang terkandung di dalam urine tersebut, misalnya kalsium phospat, serat tanaman, bahkan bakteri (Basoeki, 2000).

Sifat – sifat urine adalah:
1)   Volume urine normal orang dewasa 600 – 25000 ml/ hari. Jumlah ini tergantung pada masukan air, suhu luar, makanan dan keadaan mental/ fisik individu, produk akhir nitrogen dan kopi, teh serta alkohol mempunyai efek diuretic.
2)   Berat jenis berkisar antara 1,003 – 1,030
3)   Reaksi urine biasanya asam dengan pH kurang dari 6(berkisar 4,7 – 8). Bila masukan protein tinggi, urine menjadi asam sebab fosfor dan sulfat berlebihan dari hasil metabolism protein.
4)   Warna urine normal adalah kuning pucat atau ambar. Pigmen utamanya urokrom, sedikit urobilin dan hematopofirin. Pada keadaan demam, urine berwarna kuning tua atau kecoklatan. Pada penyakit hati pigmen empedu mewarnai urine menjadi hijau, coklat atau kuning tua. Darah (hemoglobin) memberi warna seperti asap sampai merah pada urine.
5)   Urine segar beraroma sesuai dengan zat – zat yang dimakannya.

Unsur – unsur normal dalam urine misalnya adalah:
1)        Urea yang lebih dari 25 – 30 gram dalam urine.
2)         Amonia, pada keadaan normal terdapat sedikit dalam urine segar
3)        Kreatinin dan keratin, normalnya 20 – 26 mg/kg pada laki – laki,  pada perempuan 14 – 22 mg/kg.
4)        Asam urat, adalah hasil akhir terpenting oksidasi purine dalam tubuh
5)        Asam amino, hanya sedikit dalam urine
6)        Klorida, terutama diekskresikan sebagai natrium klorida
7)        Sulfur, berasal dari protein yang mengandung sulfur dari makanan
8)        Fosfat di urine adalah gabungan dari natrium dan kalium fosfat
9)        Oksalat dalam urine rendah
10)    Mineral, natrium, kalsium, kalium dan magnesium ada sedikit dalam urine
11)    Vitamin, hormone, dan enzim ditemukan dalam urine dengan jumlah kecil.

Unsur – unsur abnormal dari urine:
1)   Protein: proteinuria (albuminuria) yaitu adanya albumin dan globulin dalam urine
2)   Glukosa: glukosaria tidak tetap dapat ditemukan setelah stress emosi, 15% kasus glikosuria tidak karena diabetes.



E.  ALAT DAN BAHAN
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah sentrifugasi dan tabung sentrifugasi, tabung reaksi, pipet panjang, penjepit tabung reaksi, urineometer, tabung urinealis, gelas benda, gelas penutup, gelas ukur, mikroskop, lap flanel, kertas isap, lampu spiritus, korek api, termometer.
Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah urine segar, air, larutan Bennedict, reagen Millon, dan indikator  universal.

F.   PROSEDUR KERJA
1.      Analisis Fisik
a.       Warna
Menampung urine segar (laki-laki) dengan volume sebanyak ¾ tabung urinealis agar memudahkan dalam pengukuran berat jenis urine menggunakan urineometer.

Mengamati warna urine laki-laki yang ada pada tabung urinealis.
Warna urine dapat bervariasi sebagai berikut:
No
Warna
Kemungkinan Penyebab
1.
Kuning gading
Pigmen urine normal
2.
Tak berwarna
Konsentrasi tereduksi
3.
Perak, warna susu
Nanah, bakteri, sel epitel
4.
Coklat berkabut
darah
5.
Kuning berbuih
Naiknya pigmen melanin
Mencocokkan warna urine dengan keterangan di atas, kemudian mencatat hasilnya.






b.      Berat Jenis
Mengukur suhu urine (laki-laki) yang ada dalam tabung urinalis menggunakan termometer segera setelah diekskresikan

 Mencatat suhu kedua contoh urine.

Meletakkan urinometer (hidrometer) pada tabung urinalis, memutar urinometer dalam tabung tersebut untuk meyakinkan bahwa urineometer dapat mengapung bebas. Hal inilah yang menyebabkan volume urine di dalam tabung urinealis harus dalam volume tertentu (ex: ¾ tabung urinealis) agar urineometer dapat tercelup optimal
 Setelah urineometer mengapung dan tidak bergerak, catatlah skala angka dekat ujung yang menunjukkan berat jenis urine.  
Menghitung berat jenis urine dengan cara menambahkan 0,001 apabila suhu urine lebih dari 15,56 0C tiap kenaikan 3oC. Jadi misalnya suhu urine adalah 36oC, maka 36oC – 15,560C = 20,44 oC (6 kali kenaikan). Sehingga 6 x 0,001 = 0,006 yang mana angka ini kemudian ditambahkan pada skala angka yang tertera pada urineometer. Namun sebaliknya, apabila suhu kurang dari 15,56 0C, maka angka pada skala urineometer dikurangi dengan 0,001 tiap penurunan 3oC.

Mencatat berat jenis urine (laki-laki)

c.       pH
Menyediakan 2 lembar indikator universal

Mencelupkan satu indikator universal pada urine (laki-laki).
Membandingkan warna indikator universal yang telah dicelupkan pada urine laki-laki dengan warna standar yang ada pada kotak tempat indikator tersebut.

Menentukan pH contoh urine berdasarkan skala dan mencatat hasilnya.

2.    Analisis Kimia
a.      Glukosa
Mendidihkan air di dalam gelas piala di atas tripod yang dipanasi dengan lampu spiritus.
Mencampurkan 8 tetes urine dengan 5ml larutan Bennedict dalam satu tabung reaksi.

Meletakkan tabung reaksi tersebut ke dalam air mendidih selama 5 menit
Setelah 5 menit, mengamati warna larutan dalam tabung reaksi dan membandingkannnya dengan tabel berikut:
No.
Warna
Hasil
1.
Biru
negatif
2.
Biru kehijauan
Ada gula
3.
Kuning kehijauan
1+
4.
Coklat kehijauan
2+
5.
Jingga-kuning
3+
6.
Merah bata dengan endapan
4+


Mencatat hasil pengamatan berdasarkan perbandingan warna masing-masing urine dengan tabel di atas.

b.      Protein
Memasukkan urine laki-laki dan perempuan sebanyak masing-masing 4 ml urine tersebut ke dalam tabung sentrifuge.

Mensentrifuge kedua contoh urine selama 15 menit

Menuangkan masing-masing 3 ml supernatan urine laki-laki ke dalam tabung reaksi

 

Meneteskan 5 tetes reagen milllon pada masing-masing contoh urine.

Mengamati perubahan warna pada masing-masing contoh urine. Apabila Mengandung protein, maka akan terjadi warna lembayung.

mencatat hasil pengamatan
c.    Analisis Mikroskopis

Mengambil pelet urine dengan pipet

Meletakkannya pada kaca benda

Menutup kaca benda dengan kaca penutup

Mengamati contoh urine di bawah mikroskop

Mengamati bentukan-bentukan yang terlihat dan mengidentifikasinya

Mencatat bentukan yang ada pada contoh urine

G.  DATA




H.  ANALISIS DATA
Pada praktikum urinalisis ini, urine yang digunakan adalah urine segar subjek berjenis kelamin laki-laki. Praktikum ini meliputi beberapa pengamatan, yaitu analisis fisik (warna urine, berat jenis, dan pH), analisis kimia (uji glukosa, uji protein, dan pigmen empedu), serta analisis mikroskopis. Bahan urine yang diuji adalah urine yang segar. Jadi, setelah dilakukan pengumpulan bahan urine, praktikan segera dilakukan pemeriksaan. Sesuai dengan teori oleh bahwa apabila terlalu lama akan terjadi perubahan pada komposisi zat dan hasil yang keluar, sebagian di antaranya adalah pertumbuhan bakteri meningkat, kadar glukosa menurun, pH menjadi alkalis, dekomposisi silinder, lisisnya eritrosit, urine menjadi makin keruh, perubahan warna dan bau, dan nitrit menjadi positif.

1.        Analisis Fisik
a)        Warna Urine
Urinalisis dimulai dengan pengamatan penampakan makroskopis , yaitu pengamatan warna urine. Warna urine dapat bervariasi, seperti yang ditunjukkan dalam tabel 1 di bawah ini:
No
Warna
Kemungkinan Penyebab
1.
Kuning gading
Pigmen urine normal
2.
Tak berwarna
Konsentrasi tereduksi
3.
Perak, warna susu
Nanah, bakteri, sel epitel
4.
Coklat berkabut
darah
5.
Kuning berbuih
Naiknya pigmen melanin
           
            Pengamatan dilakukan dengan mengmati langsung warna urine pada tabung urine. Berdasarkan pengamatan, warna urine subjke (laki-laki) yang kami amati adalah kuning gading berbuih. Adanya buih tersebut menunjukkan naiknya pigmen melanin pada tubuh subjek. Berdasarkan data tersebut dapat ditarik kesimpulan sementara bahwa urine subjek tidak normal karena terdapat buih pada urinenya.

b)       Berat Jenis
Pada penentuan berat jenis ini menggunakan urinometer. Urinometer mengapung dan langsung menunjukkan skala yang merupakan berat jenis urine. Hal ini dilakukan dengan memasukkan urinometer ke dalam tabung besar yang telah berisi urine. Skala dibaca setelah urinometer tidak bergerak lagi (diam). Skala saat urinometer tidak bergerak adalah 1,025. Sekaligus dapat mengukur suhu teraan yaitu didapatkan sebesar 60° F = 15,56 °C .
Setelah itu, pengukuran suhu urine dilakukan dengan thermometer, yaitu didapatkan suhu 31°C.  ssehingga didapatkan y (suhu pengukuran-suhu teraan) = 31 – 15,56 = 15,44°C. Karena suhu urine lebih tinggi daripada suhu teraan, maka a = y/3 x 0,001 = 15,44/3 x 0,001 = 0,00514667 gram/cm3.  Dari penghitungan tersebut didapatkan berat jenis sesungguhnya. Dimana berat jenis sesungguhnya = berat jenis + a = 1,025 + 0,00514667 = 1,0301466 gram/cm3.
Berat jenis normal 1,003 – 1,030 (ada yang menyatakan berat jenis normal 1,001 – 1,035). Berdasarkan data yang didapat dan berdasarkan teori tersebut di atas dapat disimpulkan sementara bahwa berat jenis subjek (1,0301466 gram/cm3) adalah normal karena mendekati rentangan angka normal.

c)        pH Urine
Pada penentuan pH urine, kami menggunakan indicator universal. Caranya adalah dengan mencelupkan kertas indicator universal pada urine subjek (laki-laki), kemudian mencocokan warna pada kertas indicator universal dengan warna standar yang ada pada kotak tempat indikator tersebut.
Berdasarkan pengamatan kami, didapatkan pH 6 pada urine subjek. pH urine yang normal adalah 4,5 – 7,5 (ada yang mengatakan 4,6 – 8,0). Berdasarkan data yang kami dapatkan, dapat disimpulkan sementara bahwa pH urine subjek yang kami amati adalah normal karena termasuk dalam range angka pH urine normal.

2.        Analisis Kimia
a)        Glukosa
Pada percobaan uji glukosa dilakukan dengan menambahkan 5 ml larutan benedict kedalam tabung reaksi yang berisi 8 tetes urine dan kemudian dipanaskan.  Hasilnya adalah larutan yang semula berwarna biru menjadi biru kehijauan. Uji positif ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata. Namun, dalam pengamatan kami, didapatkan hasil warna biru (sama seperti warna awal), hasilnya negatif.
Benedict spesifik dengan gula pereduksi. Sehingga apabila hasil uji glukosa positif akan menyebabkan warna merah bata karena ada endapan yang terbentuk (Cu2O) dan urine tersebut mengandung gugus OH bebas yang reaktif. Reaksinya adalah sebagai berikut:
(D-glukosa) + 2 CuO → (asam glukonat) + Cu2O
            Namun, berdasarkan hasil pengamatan, warna biru menunjukkan hasil yang negatif. Sehingga dapat disimpulkan sementara bahwa urine subjek adalah normal karena tidak mengandung gula.

b)       Protein
Untuk mengetahui adanya unsur protein dalam urin, pada percobaan ini menggunakan reagen millon. Setelah 3 ml supernatan urine ditambah 5 tetes reagen millon maka larutan yang awalnya berwarna putih keruh, tetap tidak terjadi perubahan yang signifikan, yakni tetap berwarna putih keruh.
Reaksi negatif dari reagen millon karena tidak terbentuknya ikatan antara Hg dari pereaksi millon dengan gugus hidroksifenil yang terdapat dalam urine, sehingga tidak didapatkan warna merah. Reaksi pembentukan reagen millon yaitu:
         HgCl2          +       2HNO3           Hg(NO3)2      +  Cl2
(merkuri klorida)     (asam nitrat)        (merkuri nitrat)
Sehingga dari data yang kami peroleh, dengan warna yang tetap putih keruh, maka dapat disimpulkan sementara bahwa urine subjek yang kami amati dalah normal karena tidak mengandung protein di dalamnya.
c)        Pigmen Empedu
Untuk mengetahui adanya pigmen empedu, pada percobaan ini cukup dengan mengocok tabung reaksi yang berisi urine dengan baik dan benar. Hasilnya terdapat buih yang berwarna putih. Reaksi yang dihasilkan negatif, karena buih yang dihasilkan berwarna bening (tidak ada pigmen empedu). Reaksi positif ditandai dengan buih berwarna kuning.
Sehingga dapat disimpulakn sementara bahwa urine subjek yang kami amati adalah normal (tidak mengandung pigmen empedu).
3.      Analisis Mikroskopis
Pada praktikum ini, endapan urine subyek laki-laki di amati di bawah mikroskop. Dari hasil pengamatan diketahui bahwa pada endapan urine subjek terdapat sel epitel squamosa dan asam hipuric. Berdasarkan pengamatan, jumlah elemen tersebut tergolong sedikit. Urin pada orang yang normal mengandung elemen-elemen tersebut dalam jumlah yang sedikit. Apabila elemen-elemen tersebut jumlahnya meningkat atau berlebihan maka urin mengalami abnormalitas. Sedikitnya elemen-elemen di atas menunjukkan bahwa urine subjek yang kami amati masih dapat dikatakan normal.

I.     PEMBAHASAN
Urinalisis adalah tes yang dilakukan pada sampel urine pasien untuk tujuan diagnosis infeksi saluran kemih, batu ginjal, skrining dan evaluasi berbagai jenis penyakit ginjal, memantau perkembangan penyakit seperti diabetes melitus dan tekanan darah tinggi (hipertensi), dan skrining terhadap status kesehatan umum.
Sebelum menilai hasil analisa urine, perlu diketahui tentang proses pembentukan urine. Urine  merupakan hasil metabolism tubuh yang dikeluarkan melalui ginjal. Dari 1200 ml darah yang melalui glomeruli permenit akan terbentuk filtrat 120 ml per menit. Filtrat tersebut akan mengalami reabsorpsi, difusi dan ekskresi oleh tubuli ginjal yang akhirnya terbentuk 1 ml urine per menit. Secara umum dapat dikatakan bahwa pemeriksaan urine selain untuk mengetahui kelainan ginjal dan salurannya juga bertujuan untuk mengetahui kelainan-kelainan di pelbagai organ tubuh seperti hati, saluran empedu, pankreas, korteks adrenal, uterus dan lain-lain (dr.Wirawan, Tanpa Tahun).
Pada praktikum urinalisis ini, praktikan melakukan pengujian terhadap urine laki-laki. Praktikum ini meliputi beberapa pengamatan, yaitu analisis fisik (warna urine, berat jenis, dan pH), analisis kimia (uji glukosa, uji protein, dan pigmen empedu), serta analisis mikroskopis. Bahan urine yang diuji adalah urine yang segar. Jadi, setelah dilakukan pengumpulan bahan urine, praktikan segera dilakukan pemeriksaan. Sesuai dengan teori oleh bahwa apabila terlalu lama akan terjadi perubahan pada komposisi zat dan hasil yang keluar, sebagian di antaranya adalah pertumbuhan bakteri meningkat, kadar glukosa menurun, pH menjadi alkalis, dekomposisi silinder, lisisnya eritrosit, urine menjadi makin keruh, perubahan warna dan bau, dan nitrit menjadi positif
Urinalisis, istilah untuk tes urine umum, dilakukan untuk mengevaluasi kesehatan seseorang, mendiagnosis kondisi medis seseorang, atau untuk memonitor penyakit seseorang. Tidak semua tes pada urine disebut urinalisis, misalnya tes kehamilan dan tes narkoba. Berdasarkan hasil urinalisis, kita akan mengetahui apakah kondisi kita baik atau buruk secara medis, biasanya dibuat berdasarkan tiga pemeriksaan, yaitu analisis fisik, analisis kimiawi, dan analisis mikroskopis (Husada, 2010).

1.        Analisis Fisik
a)        Analisis Warna Urine
Pertama yang dilakukan adalah analisis fisik mengenai warna urine. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan dengan melihat warna urine secara langsung yang berada pada tabung , diketahui bahwa warna urine subjek adalah kuning gading berbuih yang berarti kemungkinan penyebab naiknya pigmen melanin. Warna urine subjek yang ditunjukkan tersebut tidak dapat dikatakan normal, sebab urine normal yaitu dengan warna kuning gading. Warna kuning gading mengindikasikan bahwa pigmen yang terkandung dalam urine adalah normal. Menurut Adnan (2008), urine normal berwarna kuning atau kuning gading, transparan, pH berkisar 4,6 – 8,0 atau rata-rata 6,0, berat jenis 1,001 – 1,035, bila agak lama berbau seperti amoniak.
Disebutkan dalam Kompas oleh Acandra (2010) bahwa warna kuning dalam urine berasal dari pigmen warna yang disebut urochorme. Warna urine yang normal adalah kuning hingga kuning pucat. Warna urine kuning gelap merupakan tanda tubuh kekurangan air. Sebaliknya, warna urine yang terlalu bening bisa menjadi tanda Anda terlalu banyak minum air atau sedang mengonsumsi obat diuretik (penyerap air yang membuat volume urine bertambah). Warna urine juga bisa berubah-ubah sesuai dengan makanan yang kita asup. Misalnya, makan wortel bisa membuat warna urine menjadi agak oranye, sedangkan obat-obatan juga bisa mengubah warna urine.



         GAMBAR URINE KUNING GADING BERBUIH


Gambar 1. Urine subjek berwarna kuning gading berbuih

Disebutkan juga oleh Smith (2007) bahwa urine berbusa bisa jadi tanda yang sangat awal adanya proteinuria (kadang-kadang disebut albiminaria), terbentuknya garam-garam empedu atau protein albumin dalam urine. Proteinuria adalah tanda adanya kerusakan ginjal dan jantung terutama pada orang yang mengidap diabetes atau hipertensi. Urine berbusa juga sering menjadi tanda awal adanya sindrom nefrotik, sebuah gangguan yang serius dimana sistem penyaring ginjal bisa rusak karena infeksi virus, diabetes, dan lupus. Hal ini menyebabkan kelebihan protein mencari jalan menuju urine. Buih-buih dalam uriner juga menjadi tanda adanya fistula, sebuah koneksi abnormal antara kandung kemih dan vagina atau rectum.


b)       Berat Jenis         
Berdasarkan data pengamatan berat jenis urine, skala saat urineometer tidak bergerak pada 1,025. Didapatkan berat jenis sesungguhnya adalah 1,0301466 gram/cm3. Menurut Kuspratiknyo (2009) bahwa berat jenis urine, tergantung dari jumlah air yang larut di dalam urine atau terbawa di dalam urine. Berat jenis plasma (tanpa protein) adalah 1,010. Bila ginjal mengencerkan urine (misalnya sesudah minum air) maka berat jenisnya kurang dari 1,010. bila ginjal memekatkan urine (sebagaimana fungsinya) maka berat jenis urine naik diatas 1010. Daya pemekatan ginjal diukur menurut berat jenis tertinggi yang dapat dihasilkan, yang seharusnya dapat lebih dari 1,025.

FOTO URINOMETER


Gambar Urinometer saat tidak bergerak
(Sumber: Hasil pengamatan kelompok 6)

Ditegaskan pula bahwa pemeriksaan berat jenis urine bertalian dengan faal pemekatan ginjal, dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu dengan memakai  falling  drop, gravimetri, menggunakan pikno meter, refraktometer dan reagens pita'. Namun, dalam praktikum kali ini kami menggunakan urinometer (hydrometer).
Berat jenis urine sewaktu pada orang normal antara 1,003 - 1,030. Berat jenis urine berhubungan erat dengan diuresa, makin besar diuresa makin rendah berat jenisnya dan sebaliknya. Makin pekat urine makin tinggi berat jenisnya, jadi berat jenis bertalian dengan faal pemekat ginjal. Urine sewaktu yang mempunyai berat jenis 1,020 atau lebih, menunjukkan bahwa faal pemekat ginjal baik. Keadaan ini dapat dijumpai pada penderita dengan demam dan dehidrasi. Sedangkan berat jenis urine kurang dari 1,009 dapat disebabkan oleh intake cairan yang berlebihan hipotermi, alkalosis dan kegagalan ginjal yang menahun (dr.Wirawan, dkk. Tanpa Tahun).
Disebutkan pula oleh Riswanto (2010) bahwa berat jenis (yang berbanding lurus dengan osmolalitas urine yang mengukur konsentrasi zat terlarut) mengukur kepadatan air seni serta dipakai untuk menilai kemampuan ginjal untuk memekatkan dan mengencerkan urine.
Spesifik gravitasi antara 1,005 dan 1,035 pada sampel acak harus dianggap wajar jika fungsi ginjal normal. Nilai rujukan untuk urine pagi adalah 1,015 – 1,025, sedangkan dengan pembatasan minum selama 12 jam nilai normal > 1,022, dan selama 24 jam bisa mencapai ≥1,026. Defek fungsi dini yang tampak pada kerusakan tubulus adalah kehilangan kemampuan untuk memekatkan urine (Riswanto, 2010).
Berat jenis urine yang rendah persisten menunjukkan gangguan fungsi reabsorbsi tubulus. Nokturia dengan ekskresi urine malam > 500 ml dan berat jenis kurang dari 1.018, kadar glukosa sangat tinggi, atau mungkin pasien baru-baru ini menerima pewarna radiopaque kepadatan tinggi secara intravena untuk studi radiografi, atau larutan dekstran dengan berat molekul rendah. Kurangi 0,004 untuk setiap 1% glukosa untuk menentukan konsentrasi zat terlarut non-glukosa (Riswanto, 2010).
Jadi, berdasarkan data yang didapat dan berdasarkan teori tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa berat jenis subjek (1,0301466) adalah normal, karena mendekati rentangan angka berat jenis normal 1,003 – 1,030 (ada yang menyatakan berat jenis normal 1,001 – 1,035).

c)      pH
Pada pengamatan pH urine, urine yang kami periksa adalah segar, sebab bila disimpan terlalu lama, maka pH akan berubah menjadi basa. Urine basa dapat memberi hasil negatif atau tidak memadai terhadap albuminuria dan unsure-unsur mikroskopik sedimen urine, seperti eritrosit, silinder yang akan mengalami lisis. pH urine yang basa sepanjang hari kemungkinan oleh adanya infeksi. Urine dengan pH yang selalu asam dapat menyebabkan terjadinya batu asam urat.
Pada saat pengamatan pH urine dengan mencelupkan ketas indicator universal pada urine, selanjutnya melihat perubahan warna kertas indikator dengan warna standart pH, ternyata didapatkan pH urine subjek (laki-laki) adalah 6. Berdasarkan Harnawatiaj (2008) bahwa pH urine normal adalah 4,5 – 7,5. Dari sumber tersebut dapat dikatakan bahwa pH urine subjek adalah normal.  
Berikut ini adalah keadaan-keadaan yang dapat mempengaruhi pH urine :
a.    pH basa : setelah makan, vegetarian, alkalosis sistemik, infeksi saluran kemih (Proteus atau Pseudomonas menguraikan urea menjadi CO2 dan ammonia), terapi alkalinisasi, asidosis tubulus ginjal, spesimen basi.
b.    pH asam : ketosis (diabetes, kelaparan, penyakit demam pada anak), asidosis sistemik (kecuali pada gangguan fungsi tubulus, asidosis respiratorik atau metabolic memicu pengasaman urine dan meningkatkan ekskresi NH4+), terapi pengasaman (Riswanto, 2010).
Penetapan pH diperlukan pada gangguan keseimbangan asam basa, kerena dapat memberi kesan tentang keadaan dalam badan. pH urine normal berkisar antar 4,5- 8,0. Selain itu, penetapan pH pada infeksi saluran kemih dapat memberi petunjuk ke arah etiologi. Pada infeksi oleh Escherichia coli biasanya urine bereaksi asam, sedangkan pada infeksi dengan kuman Proteus yang dapat merombak ureum menjadi atnoniak akan menyebabkan urine bersifat basa. Dalam pengobatan batu karbonat atau kalsium fosfat urine dipertahankan asam, sedangkan untuk mencegah terbentuknya batu urat atau oksalat pH urine sebaiknya dipertahankan basa (dr.Wirawan, dkk, Tanpa Tahun).
Jadi, dari hasil pengamatan yang kami lakukan mengenai pH urine dengan indicator universal dengan urine pH 6 (kertas indicator universal ph 6 terlampir pada laporan sementara), maka dapat disimpulkan bahwa pH urine subjek (laki-laki) yang kami amati adalah normal karena berada dalam rentangan pH 4,5 – 7,5 (ada pula yang menyebutkan pH urine normal adalah 4,5 – 8,0).

2.    Analisis Kimia
a)   Uji Glukosa
Glukosa mempunyai sifat mereduksi. Ion cupri direduksi menjadi cupro dan mengendap dalam bentuk merah bata. Semua larutan sakar yang mempunyai gugusan aldehid atau keton bebas akan memberikan reaksi positif. Na sitrat dan Na karbonat (basa yang tidak begitu kuat) berguna untuk mencegah pengendapan Cu++ . Sukrosa memberikan reaksi negative karena tidak mempunyai gugusan aktif (aldehid/keton bebas) (Putri, 2011).
Reaksi benedict sensitive karena larutan sakar dalam jumlah sedikit menyebabkan perubahan warna dari seluruh larutan, sedikit menyebabkan perubahan warna dari seluruh larutan, hingga praktis dan lebih mudah mengenalnya. Hanya terlihat sedikit endapan pada dasar tabung.  Uji benedict lebih peka karena benedict dapat dipakai untuk menafsir kadar glukosa secara kasar, karena dengan berbagai kadar glukosa memberikan warna yang berlainan (Putri, 2011).
Ditegaskan pula bahwa uji benedict spesifik pada karbohidrat, terutama gula pereduksi, sakarida yang memiliki kemampuan mereduksi, yaitu sakarida dengan gugus aldosa dan ketosa bebas. Hal ini disebabkan karena kandungan atom C dan gugus hidroksil (OH) bebas yang aktif. Reaksinya adalah sebagai berikut:
(D-glukosa) + 2 CuO → (asam glukonat) + Cu2O
Adanya endapan Cu2O menyebabkan terjadinya warna merah, sehingga jika hasil uji glukosa dalam urine positip, urine subyek mengandung gugus (OH) bebas yang reaktif.
Menurut Poedjiadi (1994:40), pereaksi benedict berupa larutan yang mengandung kuprisulfat, natrium karbonat dan natrium sitrat. Glukosa dapat mereduksi ion Cu2+ dari kuprisulfat menjadiion Cu+ yang kemudian mengendap sebagai Cu2O. adapun natrium karbnat dan natrium sitrat membuat pereaksi benedict bersifat basa lemah. Endapan yang terbentuk bisa berwarna hijau, kuning atau merah bata tergantung konsentrasi karbohidrat yang diperiksa.






Contoh reaksi uji benedict pada glukosa:

    CHO





COOH





     Ι





Ι




H
  C  − OH



H
C   − OH




     Ι





Ι



H
  C  − OH
+
2CuO
H
C   − OH
+
Cu2O


     Ι

tembaga



Ι

Cupro oksida

H
  C  − OH

Oksida

H
C   − OH




     Ι





Ι



H
  C  − OH



H
C   − OH




     Ι





Ι




    CH2OH





CH2O

















          D-Glukosa                                                         Asam Glutamat
Namun, berdasarkan data hasil praktikum yang kami lakukan, setelah meletakkan larutan 8 tetes urine dan 5 ml larutan bennedict diletakkan dalam air mendidih selama 5 menit, dapat diketahui bahwa uji glukosa menunjukkan hasil yang negatif dengan menujukkan warna biru (sama seperti warna awal). Berdasarkan hasil tersebut, artinya urine subjek bebas dari salah satu unsur abnormal dari urine yaitu glukosa (Soewolo, 2003:346).
Jadi, berdasarkan data yang diperoleh mengenai warna yang dihasilkan yaitu warna biru berarti negatif (-) urine subjek yang kami amati urinenya tidak mengandung gula.

b)       Uji Protein
Untuk mengetahui adanya unsur protein dalam urine, dalam percobaan ini praktikan menggunakan reagen millon. Reaksi positif dari reagen millon ditandai dengan perubahan warna menjadi merah/lembayung. Reaksi positif ditandai dengan terbentuknya ikatan antara Hg dari pereaksi millon dengan gugus hidroksifenil yang terdapat dalam urine.
Reaksi pembentukan reagen millon yaitu:
         HgCl2          +       2HNO3           Hg(NO3)2      +  Cl2
(merkuri klorida)     (asam nitrat)        (merkuri nitrat)
Menurut Poedjiadi (1994:122), pereaksi Millon adalah larutan merkuro dan merkuri nitrat dalam asam nitrat. Apabila pereksi ini ditambahkan pada larutan protein, akan menghasilkan endapan putih yang dapat berubah menjadi merah oleh pemanasan.
Persamaan reaksi yang terjadi dapat digambarkan sebagai berikut:
         HgCl2          +       2HNO3           Hg(NO3)2      +  Cl2
(merkuri klorida)     (asam nitrat)        (merkuri nitrat)

 2 [HO − CH2 − CH − COOH] + Hg (NO3)2   2 [HO – CH2 – CH –  COOH] Hg + H2O
           NH3+                                                             NH3+     
      Tirosin               merkuri nitrat                      merkuri nitrofenilamat
Reaksi Antara Ikatan Hg dan Protein
Namun, berdasarkan data atas percobaan uji protein yang kami lakukan, setelah 3 ml supernatan urine ditambah 5 tetes reagen Millon, maka larutan yang tadinya berwarna putih keruh, tetap berwarna putih keruh, dan tidak terjadi perubahan signifikan menjadi lembayung ataupun merah. Hal ini berarti bahwa urine subjek yang kami amati (laki-laki) adalah normal tidak mengandung protein di dalamnya.

FOTO UJI PROTEIN
Gambar Hasil Negatif Uji Protein
(Sumber: Hasil pengamatan kelompok 6)

c)    Pigmen Empedu
Pigmen empedu terdiri dari biliverdin (hijau) dan bilirubin (kuning). Pigmen ini merupakan hasil penguraian hemoglobin yang dilepas dari sel darah merah terdisintegrasi. Pigmen utamanya adalah bilirubin yang memberikan warna kuning pada urine dan feses (Sloane, 1995).
Bilirubin yang dapat dijumpai dalam urine adalah bilirubin direk (terkonjugasi), karena tidak terkait dengan albumin, sehingga mudah difiltrasi oleh glomerulus dan diekskresikan ke dalam urine bila kadar dalam darah meningkat. Bilirubinuria dijumpai pada ikterus parenkimatosa (hepatitis infeksiosa, toksik hepar), ikterus obstruktif, kanker hati (sekunder), CHF disertai ikterik (Riswanto, 2010).
Berdasarkan data hasil percobaan, dapat diketahui bahwa urine subyek (laki-laki) adalah normal karena tidak mengandung pigmen empedu (Basoeki, 2000). Kenormalan ini dapat dilihat dengan buih pada urine subjek yang berwarna bening. Sedangkan pada urine yang tidak normal (mengandung pigmen empedu) ditandai dengan adanya buih berwarna kuning.
Akan tetapi hasil yang kami dapatkan tidak mungkin lepas dari beberapa faktor. Di mana dalam praktiknya, terdapat faktor yang mempengaruhi hasil praktikum mengenai tes protein ini, yaitu :
a.    Hasil positif palsu dapat disebabkan oleh hematuria, tingginya substansi molekular, infus polivinilpirolidon (pengganti darah), obat (lihat pengaruh obat), pencemaran urine oleh senyawa ammonium kuaterner (pembersih kulit, klorheksidin), urine yang sangat basa (pH > 8).
b.    Hasil negatif palsu dapat disebabkan oleh urine yang sangat encer, urine sangat asam (pH di bawah 3) (Riswanto, 2010).
Jadi, berdasarkan data yang diperoleh, dapat disimpulkan bahwa urine subjek yang diamati adalah normal karena buih yang ada pada urine adalah buih berwarna bening (tidak kuning), artinya tidak ada pigmen empedu pada urine subjek.


FOTO URINE DENGAN BUIH BENING
Gambar Hasil Uji Pigmen Empedu
(Sumber: Hasil pengamatan kelompok 6)



3.    Analisis Mikroskopis
Dari hasil penelitian diketahui bahwa pada endapan urine pria terdapat sel epitel transisional, asam uric, bakteri cast dan hialin cast. Urine pada orang yang normal mengandung elemen-elemen tersebut dalam jumlah yang sedikit. Apabila elemen-elemen tersebut jumlahnya meningkat atau berlebihan maka urine mengalami abnormalitas. Adanya elemen-elemen dalam jumlah yang abnormal tersebut disebabkan oleh berbagai hal antara lain ketidaknormalan organ-organ yang berperan dalam system urinearia misalnya pada ginjal. Kristal-kristal yang terdapat dalam urine (pada praktikum ini sel epitel squamosa dan asam hipuric). Terdapatnya unsur tersebut tergantung dari jenis makanan, banyak makanan, kecepatan metabolisme dan kepekatan urine (Wirawan, tanpa tahun). Diperkuat pula bahwa fosfat di urine adalah gabungan dari natrium dan kalium fosfat, ini berasal dari makanan yang mengandung protein berikatan dengan fosfat (Soewolo, 2003).
Menurut Riswanto (2010), pemeriksaan mikroskopik diperlukan untuk mengamati sel dan benda berbentuk partikel lainnya. Banyak macam unsur mikroskopik dapat ditemukan baik yang ada kaitannya dengan infeksi (bakteri, virus) maupun yang bukan karena infeksi misalnya perdarahan, disfungsi endotel dan gagal ginjal.
Epitel skuamosa umumnya dalam jumlah yang lebih rendah dan berasal dari permukaan kulit atau dari luar uretra. Signifikansi utama mereka adalah sebagai indikator kontaminasi (Riswanto, 2010).



FOTO EPITEL SQUAMOSA AMATAN SENDIRI

Gambar Epitel Squamosa pada Urine Subjek (laki-laki)
(Sumber: Hasil Pengamatan kelompok 6)

Gambar Epitel Squamosa
(Sumber: Riswanto, 2010_Analisis Mikroskopik_Laboratorium Kesehatan)
                        

Selain epitel squamosa, juga ditemukan asam hipuric yang bebetuk panjang runcing, juga ada yang pendek. Di bawah ini merupakan struktur kimia dari asam hipuric.


FOTO ASAM HIPURIC
Gambar Asam Hipuric
(Sumber: Hasil pengamatan kelompok 6)


Struktur kimia Asam Hipuric
(Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/File:Hippuric_acid.png)

Berdasarkan pengamatan elemen dalam urine, praktikan mengamati jumlah elemen-elemen tersebut, dan didapatkan bahwa jumlah elemen tersebut sedikit, sehingga dapat dikatakan bahwa urine subjek yang kami amati masih dalam kondisi normal.

J.    KESIMPULAN
1.      Urine yang kami amati menunjukkan warna kuning gading berbuih. Hal ini menunjukkan naiknya pigmen melanin pada subjek. Urine yang demikian dapat dikatakan tidak normal, seharusnya urine normal berwarna kuning gading, tanpa buih.
2.      Berat jenis urine yang normal berkisar antara 1,003-1,030 g/cm3, maka dapat disimpulkan bahwa urine yang diuji memiliki berat jenis yang termasuk dalam range yang normal.
3.      Urin sampel memilki pH 6 (pH asam) dan dapat dikatakan normal karena umumnya pH urin dalam manusia bervariasi dari 4,5-7,5.
4.      Urine yang diamati oleh praktikan tidak mengandung glukosa karena memberi hasil negatif terhadap tes Benedict, dengan menunjukkan warna biru. Berarti urine tersebut adalah urine yang normal.
5.      Urine yang diamati oleh praktikan tidak mengandung protein karena memberikan hasil negative terhadap tes Millon, dengan menunjukkan warna putih keruh (tidak lembayung). Berarti urine tersebut adalah urine yang normal.
6.      Urine yang diamati oleh praktikan tidak mengandung pigmen empedu karena tidak menunjukkan buih berwarna kuning, melainkan buih bening. Berarti urine tersebut adalah urine yang normal.
7.      Elemen yang ditemukan dalam urine subjek adalah sel-sel epitel squamosa dan asam hipuric dalam jumlah sedkit. Sehingga dapat dikatakan bahwa urine subjek masih dalam kondisi normal.




K.  DAFTAR RUJUKAN

Acandra. 2010. Intip Kesehatan Warna Urine. (Online), (http://kesehatan.kompas.com/read/2010/04/13/13214350/Intip.Kesehatan.dari.Warna.Urine, diakses 17 Nopember 2011)

Adnan. 2008. Proses dalam Ginjal. (Online), (http://barrusweet.blogspot.com/2008/07/proses-dalam-ginjal.html, diakses 17 Nopember 2011).

Basoeki, Soedjono, dkk. 2000. Petunjuk Praktikum Anatomi dan Fisiologi Manusia. Malang: FMIPA UM.

Dr.Wirawan, dkk. Tanpa Tahun. Penialaian Hasil Pemeriksaan Urine. (Online),(http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/12_PenilaianHasilPemeriksaanUrine.pdf/12_PenilaianHasilPemeriksaanUrine.html, diakses 17 November 2011).
Harnawatiaj. 2008. Konsep Dasar Pemenuhan Kebutuhan Eliminasi Urine. (Online),(http://harnawatiaj.wordpress.com/2008/03/17/konsep-dasar-pemenuhan-kebutuhan-eliminasi-urine/, diakses 17 November 2011).

Husada, dr. Ivan. 2010. Urinalisis. (Online), (http://www.ivanhoesada.com/, diakses 17 November 2011).

Joan Liebmann-Smith. 2007. Body Signs, How to Be Your Own Diagnostic Detective. Jakarta: Ufuk Publishing House.

Medicastore. 2007. Urinalisis. (Online), (http://medicastore.com, diakses tanggal 18 Nopember 2011).

Soewolo. 2005. Anatomi dan Fisiologi Manusia. Malang: FMIPA UM

Soewolo. 2000. Pengantar Fisiologi Hewan. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Poedjiadi, Anna. 1994. Dasar-dasar Biokimia. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Putri. 2011. Pemeriksaan Laboratorium Urine. (Online), (http://mahasiswakedokteranonline.wordpress.com/2011/06/10/uji-glukosa-urine/, diskses 18 November 2011)

Riswanto. 2010. Protein Urine. (Online), (http://labkesehatan.blogspot.com/, diakses 17 November 2011).
Sloane, Ethel. 1995. Anatomi dan Fisiologi untuk Pemula. Jakarta: Buku Kedokteran EGC-IKAPI





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini