Rabu, 22 Desember 2010

ANATOMI BUAH DAN BIJI

BUAH DAN BIJI

A. Dasar Teori
Pembentukan buah terjadi setelah peristiwa fertilisasi (pembuahan). Dinding ovarium akan menjadi dinding buah dan bakal buah akan menjadi buah. Bakal biji akan menjadi biji.
Buah ada yang berdaging dan ada yang kering. Buah berdaging jika memiliki dinding buah tebal dan mengandung air, buah demikian disebut dengan buah buni. Buah kering ada yang kulit buahnya terpisah dengan kulit bijinya atau bersatu dengan kulit bijinya. Buah yang kulit bijinya bersatu dengan kulit buahnya dinamakan akenium.
Kulit buah ada yang dua lapis dan ada yang tiga lapis. Kulit buah yang terdiri dari 2 lapis meliputi eksokarpium dan endokarpium sedang yang tiga lapis meliputi eksokarpium, mesokarpium, dan endokarpium. Endokarpium berbatasan dengan kulit biji. Eksokarpium umumnya satu lapis sel, mesokarpium terdiri dari beberapa lapis sel, sedang endokarpium dapat satu lapis atau lebih. Buah tertentu memiliki endokarpium yang terdiri dari sel batu. Daging buah yang kita makan sehari-hari sebenarnya mesokarpium.
Biji berkembang setelah fertilisasi juga. Integumen akan berkembang menjadi kulit biji, sedang kantung lembaga akan berkembang menjadi endosperm dan embrio. Embrio di dalam biji merupakan perkembangan dari zigot. Perkembangan embrio akan membentuk calon akar (radikula), calon tunas (plumula), dan kotiledon. Endosperm ada yang sudah habis untuk perkembangan embrio sehingga masa dormansi biji pendek. Biji yang tidak memiliki endosperm dinamakan non-endosperm seed atau biji yang tidak berputih lembaga atau exalbumineous seed. Cadangan makanan mungkin disimpan dalam kotiledon. Biji ada juga yang masih memiliki endosperm pada waktu buah masak, biji demikian disebut endosperm seed atau biji berputih lembaga atau albumineous seed.
Bakal biji melekat pada dinding ovarium melalui funikulus dan plasenta. Funikulus dapat melekat pada kulit biji terutama pada bakal biji yang mengangguk. Setelah fertilisasi, bakal biji akan berkembang menjadi biji, funikulus akan menjadi rafe. Bekas pelekatan plasenta dengan bakal biji disebut hilus atau hilum. Hilum biasanya tersusun dari sel-sel yang strukturnya seperti trakeida sehingga dapat dilalui air pada proses imbibisi.
Kotileon dapat juga berfungsi sebagai alat penyerap cadangan makanan sehingga disebut dengan haustorium. Selain itu kotiledon dapat berubah menjadi hijau setelah biji berkecambah dan kotiledon tadi menjadi alat fotosintesis.
Perkecambahan biji ada yang memunculkan kotiledon ke atas tanah sehingga bagian hipokotil muncul ke atas tanah; tetapi ada juga biji yang perkecambahannya tidak memunculkan kotil ke luar, kotil tetap berada di dalam tanah. Perkecambahan yang tidak memunculkan kotil ke atas tanah disebut perkecambahan hipogeus. Perkecambahan yang memunculkan kotil di permukaan tanah disebut epigeus.
B. Tujuan
1. Mengamati struktur anatomi buah berdaging.
2. Mengamati struktur anatomi buah kering.
3. Mengamati struktur biji.
C. Alat dan Bahan
a. Alat:
mikroskop cahaya, gelas benda, gelas penutup, jarum preparat, silet, kobokan, pipet tetes, dan lampu spiritus.
b. Bahan:
1. bahan segar:
a. buah buncis c. biji kacang hijau
b. buah adas d. buah jagung segar
c. buah cabe rawit
2. reagen:
Floroglusin, HCl 25%, kloral hidrat, IKI, Sudan III.
3. Empulur ketela pohon.
D. Tugas
1. Sebelum melakukan praktikum siapkanlah mikroskop cahaya dan bersihkan sehingga mikroskop siap untuk mengamati.
2. Bersihkan kaca benda dan teteskan air di atasnnya.
3. Bagilah tugas pembuatan preparat pada semua anggota kelompok. Berilah kode pada setiap kaca benda.
4. Buatlah:
a. preparat irisan melintang buah buncis. Amatilah di bawah mikroskop cahaya. Perhatikanlah komponen jaringan penyusun kulit buah. Ada berapa lapis kulit buahnya? Jaringan apa saja yang menyusun kulit buah? Perhatikan pula bijinya, jaringan apa saja yang menyusun biji? Reaksikan preparat dengan reagen IKI, apa yang terjadi? Buatlah skemanya secara lengkap dan gambarlah hasil pengamatanmu secara rinci satu sektor.
b. preparat irisan melintang buah adas, dengan bantuan empulur ketela pohon. Amatilah di bawah mikroskop cahaya. Lakukanlah pengamatan sesuai dengan langkah 4a. Reaksikan preparat dengan Sudan III, apa yang terjadi?. Reaksikan juga dengan IKI, apa yang terjadi? Catatlah hasil pengamatanmu pada buku laporan.
c. preparat irisan melintang buah cabe rawit. Amatilah di bawah mikroskop cahaya. Lakukanlah pengamatan sesuai dengan langkah 4a.
d. preparat irisan melintang biji kacang hijau melalui hilusnya. Amatilah di bawah mikroskop cahaya. Bagian-bagian apa saja yang tampak? Identifikasilah jaringan penyusun kulit biji dan kotiledonnya. Bagian-bagian embrio apa saja yang tampak? Buatlah skemanya secara lengkap dan gambarlah hasil pengamatanmu secara rinci satu sektor melalui hilusnya. Reaksikan preparat dengan reagen Floroglusin dan HCl 25%, amatilah jaringan penyusun yang bereaksi dengan reagen tersebut, jaringan apakah itu? Reaksikan preparat dengan reagen IKI, apa yang terjadi? Biji kacang hijau dilihat dari struktur anatominya termasuk biji yang mana?
e. preparat irisan membujur buah jagung. Amatilah di bawah mikroskop cahaya. Bagian-bagian apa saja yang tampak? Identifikasilah jaringan penyusun kulit buahnya. Bagian-bagian embrio apa saja yang tampak? Buatlah skemanya secara lengkap. Reaksikan preparat dengan reagen IKI, apa yang terjadi?
5. Kembalikanlah mikroskop dalam keadaan bersih setelah saudara selesai melakukan pengamatan.
E. Evaluasi
Diskusikan soal-soal berikut dengan teman sekelompok dan kumpulkan hasil diskusinya kepada pembimbing pada praktikum berikutnya.
1. a. Jelaskan perbedaan struktur anatomi buah yang berdaing dan buah kering!
b. Berikan contoh dari bahan amatan, buah manakah yang termasuk buah kering dan buah berdaging?
2. Sebutkan jaringan-jaringan apa saja yang menyusun kulit buah!
3. Jelaskan dari perkembangan apakah kulit buah?
4. Sebutkan bagian-bagian biji!
5. Jelaskan bagian-bagian yang menyusun kulit biji?
6. Sebutkan dan jelaskan bagian-bagian embrio suatu biji!
7. Jelaskan perbedaan antara kulit buah dan kulit biji!
F. Kepustakaan
1. Esau, K. 1977. Anatomy of Seed Plant. New York: John Wiley and Son Inc.
2. Fahn, A. 1990. Plant Anatomy. New York: Pergamon Press.
3. Pandey, B. P. 1980. An Introduction a Plant Anatomy. New Delhi: S. Chand & Company Ltd.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini