Sabtu, 08 Oktober 2011

SIKAP SEORANG GURU


JURNAL BELAJAR 3

Nama               : Linda Tri Antika
NIM                : 209341417443
Kelas               : AA
Matakuliah      : Belajar dan Pembelajaran
Dosen              : Dr. Hj. Sri Endah Indriwati, M.Pd
Jam/ Ruang     : 07 – 08 SPA 307
Hari,  Tanggal : Senin, 22 Agustus 2011
Jurnal ke-         : 3
Konsep            : Penilaian Jurnal dan Pencerahan tentang Hidup (Sikap) dari Dosen


1.        INFORMASI/ KONSEP YANG DITERIMA DARI DOSEN
1-      Sangat penting menjaga sikap.
2-      Harus mampu berpikir panjang dalam menjalani hidup.
3-      Bagaimana menjadi pribadi yang baik (misalnya sebagai guru dan siswa).

2.        EKSPLORASI KONSEP YANG DIPELAJARI
Dalam pertemuan kali ini, dosen menjelaskan tentang pentingnya menjaga sikap, berfikir panjang dalam menjalani hidup, dan bagaimana menjadi pribadi yang baik. Hal ini sangat penting untuk dikaji karena meskipun hal ini biasanya dianggap remeh, namun sangat berpengaruh terhadap hidup kita, terutama sikap kita. Lebih-lebih saya sebagai calon pengajar dan pendidik, harus mengerti betul dalam menjaga sikap dan membetuk sikap yang baik terhadap siswa-siswa saya.

3.        HASIL EKSPLORASI
Konsep dasar sikap dan perilaku yang saya dapatkan bersumber dari pendapat Thursthoen dalam Walgito (1990: 108) “sikap adalah gambaran kepribadian seseorang yang terlahir melalui gerakan fisik dan tanggapan pikiran terhadap suatu keadaan atau suatu objek”. Juga kutipan dari pendapat Berkowitz, dalam Azwar (2000:5)  ”sikap seseorang pada suatu objek adalah perasaan atau emosi, dan faktor kedua adalah reaksi/respon atau kecenderungan untuk bereaksi. Sebagai reaksi maka sikap selalu berhubungan dengan dua alternatif, yaitu senang (like) atau tidak senang (dislike), menurut dan melaksanakan atau menjauhi/menghindari sesuatu”.
Berdasarkan Mar’at (1982:23) sikap akan dipersepsi oleh individu dan hasil persepsi akan dicerminkan dalam sikap yang diambil oleh individu yang bersangkutan. Dalam persepsi objek sikap individu akan dipengaruhi oleh pengetahuan, pengalaman, keyakinan, proses belajar, dan hasil proses persepsi ini akan merupakan pendapat atau keyakinan individu mengenai objek sikap dan ini berkaitan dengan segi kognisi. Afeksi akan mengiringi hasil kognisi terhadap objek sikap sebagai aspek evaluatif, yang dapat bersifat positif atau negatif. Hasil evaluasi aspek afeksi akan mengait segi konasi, yaitu merupakan kesiapan untuk memberikan respon terhadap objek sikap, kesiapan untuk bertindak dan untuk berperilaku. Keadaan lingkungan akan memberikan pengaruh terhadap objek sikap maupun pada individu yang bersangkutan.
Mengukur sikap bukan suatu hal yang mudah sebab sikap adalah kecenderungan, pandangan pendapat, atau pendirian seseorang untuk meneliti suatu objek atau persoalan dan bertindak sesuai dengan penilaiannya, dengan menyadari perasaan positif dan negatif dalam menghadapi suatu objek. Dalam penelitian sikap, tergantung pada kepekaan dan kecermatan pengukurannya. Perlu diperhatikan metode yang berhubungan dengan pengukuran sikap, bagaimana instrumen itu dapat dikembangkan dan digunakan untuk mengukur sikap. Azwar (2000:90) menjelaskan bahwa, metode yang bisa digunakan untuk pengungkapan sikap yaitu:
a.    Observasi perilaku, Kalau seseorang menampakkan perilaku yang konsisten (terulang) misalnya tidak pernah mau diajak nonton film Indonesia, bukanlah dapat disimpulkan bahwa ia tidak menyukai film Indonesia. Orang lain yang selalu memakai baju warna putih, bukankah dia memperlihatkan sikapnya terhadap warna putih. Perilaku tertentu bahkan kadang-kadang sengaja ditampakkan untuk menyembunyikan sikap yang sebenarnya.
b.    Pertanyaan langsung, Asumsi yang mendasari metode pertanyaan langsung guna pengungkapan sikap, pertama adalah asumsi bahwa individu merupakan orang yang paling tahu mengenai dirinya sendiri, dan kedua adalah asumsi keterusterangan bahwa manusia akan mengemukakan secara terbuka apa yang dirasakannya.
c.    Pengungkapan langsung, Suatu metode pertanyaan langsung adalah pengungkapan langsung (direct assessment) secara tertulis yang dapat dilakukan dengan menggunakan item tunggal maupun dengan menggunakan item ganda. Prosedur pengungkapan langsung dengan item ganda sangat sederhana. Responden diminta untuk menjawab langsung suatu pernyataan sikap tertulis dengan memberi tanda setuju atau tidak setuju. Penyajian dan pemberian respondennya yang dilakukan secara tertulis memungkinkan individu untuk menyatakan sikap secara lebih jujur. Pengukuran sikap yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan pengungkapan langsung yaitu dengan menggunakan skala psikologis yang diberikan pada objek.

4.        HUBUNGAN YANG BERKAITAN DENGAN KONSEP
Hal yang berkaitan dengan SAINS dan pembelajarannya adalah teori belajar yang digunakan oleh guru/ dosen dalam proses pembelajaran SAINS itu sendiri. Misalnya adalah teori belajar konstruktivisme. Teori ini mempunyai pengaruh besar terhadap upaya pengembangan model-model pembelajaran yang bertujuan membantu siswa memahami konsep-konsep secara benar.
Para guru/ dosen umumnya telah menyadari bahwa sebenarnya mengubah kesalahan konsep siswa/ mahasiswa  tidaklah mudah. Siswa/ mahasiswa dalam membangun pemahamannya tentang konsep sains membentuk suatu kerangka berpikir yang kompleks, di mana pembentukan kerangka berpikir tersebut merupakan hasil interaksi siswa/ mahasiswa dengan pengalaman-pengalaman konkritnya atau dari hasil belajarnya. Jadi teori belajar yang digunakan akan berpengaruh sejauh mana siswa/ mahasiswa memahami konsep SAINS yang dipelajari.

5.        MASALAH DAN SOLUSI
A.      MASALAH
1.    Faktor apakah yang mempengaruhi sikap seseorang?
2.    Bagaimana huhungan antara guru dan murid mengenai hubungannya dengan sikap murid?
3.    Bagaimana sikap dan sifat guru yang profesional?
4.    Bagaimana karakter yang harus dimiliki oleh seorang guru?
5.    Bagaimana dan apa saja faktor yang menyebabkan seorang guru melakukan sikap yang menyimpang?

B.       SOLUSI
1.        Faktor yang Mempengaruhi Sikap
Sikap yang ada pada diri seseorang akan dipengaruhi oleh faktor internal, yaitu factor fisiologis dan psikologis serta faktor eksternal. Faktor eksternal dapat berwujud situasi yang dihadapi oleh individu, norma-norma yang ada dalam masyarakat, hambatan-hambatan atau pendorong-pendorong yang ada dalam masyarakat. Semuanya ini akan berpengaruh terhadap sikap yang ada pada diri seseorang (Fuddin, 2009).
Saya sangat setuju dengan penulis di atas bahwa faktor internal dan factor internal sangat mempengaruhi sikap seseorang. Factor internal, misalnya seseorang yang mempunyai gangguan dalam psikologis akan merasa minder dan sering menyendiri, akibatnya orang tersebut bersikap kurang social dan kurang pergaulan. Selain itu, factor eksternal juga sangat berpengaruh terhadap sikap seseorang. Misalnya, seseorang yang awalnya berasal dari lingkungan desa kemudian pindah ke lingkungan kota, maka apabila tidak mempunyai pengendalian diri, maka akan terpengaruh oleh lingkungan luarnya. Oleh karena itu, peran orang tua sangat diharapkan dalam mendidik putra-putrinya, terutama mengenai sikap dan batasan pergaulannya. Selain itu, peran guru di sekolah yang tidak hanya mengajatr tetapi juga mendidik pun sangat diharapkan guna melahirkan peserta didik yang handal dan berbudi pekerti mulia.


2.        Huhungan antara Guru dan Murid
Disebutkan dalam Jurnal Pendidikan Dharma oleh (Andrini, 2011) yang berjudul Profesionalisme Guru dan Paradigma Baru dalam Peningkatan Mutu Pendidikan disebutkan bahwa hubungan guru dengan muridnya kian hari kian renggang. Dulu, mereka begitu mengerti kondisi dan perkembangan muridnya. Namun kini, jam kerja guru terpaku oleh waktu, lebih dari jam tersebut dianggap sebagai tambahan pelajaran sehingga perlu perhitungan biaya tertentu. Kondisi ini diperparah oleh adanya perubahan gaya hidup anak muda yang kian "santai" dalam bersopan santun terhadap guru. Di sisi lain, akibat merebaknya akses informasi membuat murid "merasa lebih tahu" dari pada gurunya.
Selain itu, juga belum ada peraturan di bidang pendidikan yang secara tegas mengharuskan guru untuk meningkatkan kualitas pengajarannya sesuai dengan standar yang ditentukan, yang ada barulah berupa himbauan saja. Keberadaan peraturan seperti ini akan memberikan konsekuensi bila seorang guru tidak mampu meningkatkan kualitas diri serta anak didiknya. Bukannya seperti saat ini dengan cara guru memberikan les-les privat pada segelintir murid yang selain menimbulkan kecemburuan, menambah beban/ pengeluaran orang tua, juga memperlihatkan tidak adanya rasa tanggung jawab moral dari guru terhadap anak didiknya.
Saya sangat setuju dengan penulis di atas bahwa sikap sopan santun peserta didik saat ini mulai pudar terhadap gurunya. Menurut saya, hal tersebut dipengaruhi oleh globalisasi yang dampaknya sangat kita rasakan, terutama moral kawula muda saat ini. Tidak lepas dari pengaruh teknologi yang semakin maju, misalnya aanya internet, handphone, dan lain-lain. Hal tersebut sangat mempengaruhi sikap anak muda saat ini. Hal lain yang utama adalah kepedulian orang tua terhadap anaknya, terutama mengenai akhlak dan aqidahnya. Berbeda dengan orang tua zaman dahulu yang konon sangat menjaga sikap putra putrinya, sehingga Indonesia dikenal dengan adat timur karena memiliki kesopanan yang tinggi.
Namun, saat ini seolah-olah tanggung jawab orang tua terhadap anaknya terabaikan. Anak muda mungkin sangat merasa dibebaskan, karena tidak adanya teguran dari orang tua. Padahal dengan maraknya dampak negative globalisasi ini, tanggung jawab orang tua justru sangat diharapkan dalam mendidik anaknya agar kelak menjadi generasi yang berakhlak mulia. Dengan kata lain, berkembangnya IPTEK harus diimbangi dengan IMTAQ.

3.        Sikap dan Perilaku Guru yang Profesional
Berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas guru, antara lain melalui seminar, pelatihan, dan loka karya, bahkam melalui pendidikan formal bahkan dengan menyekolahkan guru pada tingkat yang lebih tinggi. Kendatipun dalam pelakansaannya masih jauh dari harapan, dan banyak penyimpangan, namun paling tidak telah menghasilkan suatu kondisi yang yang menunjukkan bahwa sebagian guru memiliki ijazah perguruan tinggi.
Latar belakang pendidikan ini mestinya berkorelasi positif dengan kualitas pendidikan, bersamaan dengan faktor lain yang mempengaruhi. Walaupun dalam kenyataannya banyak guru yang melakukan kesalahan-kesalahan. Kesalahan-kesalahan yang seringkali tidak disadari oleh guru dalam pembelajaran ada tujuh kesalahan. Kesalahan-kesalahan itu antara lain:
1.    mengambil jalan pintas dalam pembelajaran,
2.    menunggu peserta didik berperilaku negatif,
3.    menggunakan destruktif discipline,
4.    mengabaikan kebutuhan-kebutuhan khusus (perbedaan individu) peserta didik,
5.    merasa diri paling pandai di kelasnya,
6.    tidak adil (diskriminatif), serta
7.    memaksakan hak peserta didik (Mulyasa, 2005:20).
Untuk mengatasi kesalahan-kesalahan tersebut maka seorang guru yang profesional harus memiliki empat kompetensi. Kompetensi tersebut tertuang dalam Undang-Undang Dosen dan Guru, yakni:
1.    kompetensi pedagogik adalah kemampuan mengelola pembelajaran peserta didik,
2.    kompetensi kepribadian adalah kemampuan kepribadian yang mantap, berakhlak mulia, arif, dan berwibawa serta menjadi teladan peserta didik,
3.    kompetensi profesional adalah kamampuan penguasaan materi pelajaran luas mendalam,
4.    kompetensi sosial adalah kemampuan guru untuk berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan efisien dengan peserta didik, sesama guru, orang tua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.

4.        Enam Belas Pilar Pembentukan Karakter yang Harus Dimiliki Seorang Guru
Menurut Danni Ronnie M. , ada enam belas pilar agar guru dapat mengajar dengan hati. Keenam belas pilar tersebut menekankan pada sikap dan perilaku pendidik untuk mengembangkan potensi peserta didik. Enam belas pilar pembentukan karakter yang harus dimiliki seorang guru, antara lain:
1. kasih sayang,
2. penghargaan,
3. pemberian ruang untuk mengembangkan diri,
4. kepercayaan,
5. kerjasama,
6. saling berbagi,
7. saling memotivasi,
8. saling mendengarkan,
9. saling berinteraksi secara positif,
10. saling menanamkan nilai-nilai moral,
11. saling mengingatkan dengan ketulusan hati,
12. saling menularkan antusiasme,
13. saling menggali potensi diri,
14. saling mengajari dengan kerendahan hati,
15. saling menginsiprasi,
16. saling menghormati perbedaan.
Menurut saya, pendapat ini sangat baik sekali bila dikaitkan dengan profesional seorang guru.


5.        Faktor Penyebab Sikap dan Perilaku Guru Menyimpang
Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan anak bangsa. Berbagai upaya pemerintah untuk meningkatkan mutu pendidikan telah dilaksanakan walapun belum menunjukkan hasil yang optimal. Pendidikan tidak bisa lepas dari siswa atau peserta didik. Siswa merupakan subjek didik yang harus diakui keberadaannya. Berbagai karakter siswa dan potensi dalam dirinya tidak boleh diabaikan begitu saja. Tugas utama guru mendidik dan mengembangkan berbagai potensi.
Menurut (Fuddin, 2009) dalam artikelnya yang berjudul Sikap dan Perilaku Guru yang Profesional , jika ada pendidik (guru) yang sikap dan perilakunya menyimpang karena dipengaruhi beberapa faktor. Pertama, adanya malpraktik yaitu melakukan praktik yang salah, miskonsep. Guru salah dalam menerapkan hukuman pada siswa. Apapun alasannya tindakan kekerasan maupun pencabulan guru terhadap siswa merupakan pelanggaran.
Kedua, kurang siapnya guru maupun siswa secara fisik, mental, maupun emosional. Kesiapan fisik, mental, dan emosional guru maupun siswa sangat diperlukan. Jika kedua belah pihak siap secara fisik, mental, dan emosional, proses belajar mengajar akan lancar, interaksi siswa dan guru pun akan terjalin harmonis.
Ketiga, kurangnya penanaman budi pekerti di sekolah. Pelajaran budi pekerti sekarang ini sudah tidak ada lagi. Kalaupun ada sifatnya hanya sebagai pelengkap, lantaran diintegrasikan dengan berbagai mata pelajaran yang ada. Namun realitas di lapangan pelajaran yang didapat siswa kabanyakan hanya dijejali berbagai materi. Sehingga nilai-nilai budi pekerti yang harus diajarkan justru dilupakan.
Selain dari ketiga faktor di atas, juga dipengaruhi oleh tipe-tipe kejiwaan seperti yang diungkapkan Plato dalam “Tipologo Plato”, bahwa fungsi jiwa ada tiga, yaitu: fikiran, kemauan, dan perasaan. Pikiran berkedudukan di kepala, kemauan berkedudukan dalam dada, dan perasaan berkedudukan dalam tubuh bagian bawah. Atas perbedaan tersebut Plato juga membedakan bahwa pikiran itu sumber kebijakasanaan, kemauan sumber keberanian, dan perasaan sumber kekuatan menahan hawa nafsu.
Jika pikiran, kemauan, perasaan tidak sinkron akan menimbulkan permasalahan. Perasaan tidak dapat mengendalikan hawa nafsu, akibatnya kemauan tidak terkendali dan pikiran tidak dapat berpikir bijak. Agar pendidikan di Indonesia berhasil, paling tidak pendidik memahami faktor-faktor tersebut. Kemudian mampu mengantisipasinya dengan baik. Sehingga kesalahan-kesalahan guru dalam sikap dan perilaku dapat dihindari.

6.        ELEMEN YANG MENARIK
1.      Plato dalam “Tipologo Plato”, bahwa fungsi jiwa ada tiga, yaitu: fikiran, kemauan, dan perasaan. Pikiran berkedudukan di kepala, kemauan berkedudukan dalam dada, dan perasaan berkedudukan dalam tubuh bagian bawah. Atas perbedaan tersebut Plato juga membedakan bahwa pikiran itu sumber kebijakasanaan, kemauan sumber keberanian, dan perasaan sumber kekuatan menahan hawa nafsu.
2.      Mengukur sikap bukan suatu hal yang mudah sebab sikap adalah kecenderungan, pandangan pendapat, atau pendirian seseorang untuk meneliti suatu objek atau persoalan dan bertindak sesuai dengan penilaiannya, dengan menyadari perasaan positif dan negatif dalam menghadapi suatu objek.
3.      Kesalahan guru dalam memahami profesinya akan mengakibatkan bergesernya fungsi guru secara perlahan-lahan. Pergeseran ini telah menyebabkan dua pihak yang tadinya sama-sama membawa kepentingan dan salng membutuhkan, yakni guru dan siswa, menjadi tidak lagi saling membutuhkan. Akibatnya suasana belajar sangat memberatkan, membosankan, dan jauh dari suasana yang membahagiakan. Dari sinilah konflik demi konflik muncul sehingga pihak-pihak didalamnya mudah frustasi lantas mudah melampiaskan kegundahan dengan cara-cara yang tidak benar. Di sinilah perlu diperhatikan sikap guru yang professional atau sebaliknya.
4.      Minat, bakat, kemampuan, dan potensi peserta didik tidak akan berkembang secara optimal tanpa bantuan guru. Dalam kaitan ini guru perlu memperhatikan peserta didik secara individual. Tugas guru tidak hanya mengajar, namun juga mendidik, mengasuh, membimbing, dan membentuk kepribadian siswa guna menyiapkan dan mengembangkan sumber daya manusia (SDM).

7.        REFLEKSI DIRI
Sebagai calon pengajar dan pendidik bidang Biologi, saya sangat tertarik membaca materi tentang Hakikat SAINS dan Pembelajaran SAINS ini. Selain berguna dalam pemahaman saya untuk keperluan matakuliah ini sendiri, saya juga dapat menerapkan pembelajaran yang pantas dalam bidang Biologi setelah saya benar-benar menjadi seorang pengajar dan pendidik nanti. Saya sangat ingin membuat siswa/ mahasiswa saya mengerti, tidak hanya menghafal saja. Oleh karena itu, saya masih harus bereksplorasi lagi mengenai metode ataupun pendekatan pembelajaran yang pas untuk pembelajaran Biologi. Syukur-syukur kalau saya bisa menemukan metose anyar dalam pembelajaran Biologi. Amiiiiiiin........ 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ada kesalahan di dalam gadget ini